Rekomendasi

Wilujengan Nagari Mahesa Lawung Keraton Surakarta, Doa untuk Keselamatan NKRI

Kamis, 26 Desember 2019 : 17.21
Published by Hariankota
SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung Wawu 1953, Kamis (26/12/2019). Usai dilaksanakan sejumlah acara pembukaan di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, satu di antaranya yakni penampilan seni Reyog Ponorogo.

Selanjutnya, para kerabat, sentana dan abdi dalem keraton berkumpul di Pendapa Sitihinggil dan memanjatkan doa tolak bala.

Tak hanya untuk kesejahteraan keraton itu sendiri, doa pun ditujukan untuk keselamatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar dihindarkan dari segala bentuk bencana maupun perpecahan.

Tampak khusyuk, doa tolak bala pun dipanjatkan dengan dipimpin oleh Ulama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sejumlah kerabat, sentana beserta abdi dalem keraton mengelilingi meja yang berisi bermacam uba rampe dan sesaji upacara Wilujengan Mahesa Lawung, seperti kepala kerbau yang ditutup kain putih, kelapa muda, pisang raja, ayam ingkung, bunga hingga jajan pasar.

Setelah prosesi pembacaan doa selesai, kepala kerbau lalu dibawa menuju ke Alas (hutan) Krendawahono Karanganyar untuk dikuburkan di kawasan petilasan Pakoe Buwono (PB) VI.

Adapun upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung diakhiri dengan Kenduri (makan bersama).

Di sela acara, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), Keraton Kasunanan Surakarta GKR Koes Moertiyah (Gusti Moeng) kepada wartawan mengungkapkan, selain sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, upacara adat itu pun menjadi ajang untuk memupuk silaturahmi dan merawat tradisi leluhur.

"Kami bersama keluarga besar trah Pakoe Buwono II sampai ke XIII, mengadakan upacara ke Krendowahono. Ini menjadi ajang silaturahmi juga untuk para kerabat dan kawula atau abdi dalem keraton.

Wilujengan Nagari Mahesa Lawung ini, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan, agar Keraton Surakarta dan juga NKRI diberi keselamatan serta dihindarkan dari mala bahaya dan bencana," jelasnya.

Adapun penguburan kepala kerbau di Hutan Krendowahono, imbuh Gusti Moeng, merupakan simbol untuk menghilangkan sifat bodoh.

"Penguburan kepala kerbau, dimaksudkan sebagai simbol untuk menghilangkan sifat bodoh. Agar mala bahaya dan bencana maupun perpecahan akibat kebodohan itu tadi tidak terjadi," tandas Gusti Moeng.

Upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung dihelat pada hari ke-100 setelah 17 Sura. Lazimnya, upacara ini digelar pada Senin atau Kamis pada akhir Jumadilakhir atau Rabiulakhir dalam penanggalan Jawa.

Jurnalis: Kacuk Legowo
Editor: Rahayuwati

Share this Article :