Rekomendasi

Berdiri Kasultanan Keraton Pajang di Sukoharjo, Enggan Disebut Mirip KAS

Jumat, 17 Januari 2020 : 20.55
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Tak seperti di Purworejo yang heboh dengan munculnya Keraton Agung Sejagat (KAS) dengan rajanya yang bernama asli Totok Santosa. Di Sukoharjo, tepatnya di Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura juga ada Kasultanan Keraton Pajang (KKP).

KKP yang berbentuk yayasan ini berdiri di kawasan dekat petilasan Keraton Pajang dengan luas lahan sekira 4000 meter persegi ini dipimpin oleh seorang sultan berjuluk Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV yang bernama asli Suradi.

Saat ditemui hariankota.com, Suradi yang juga mengikuti perkembangan pemberitaan penangkapan pendiri KAS di Purworejo mengatakan, ada perbedaan mendasar antara KAS dengan Yayasan Kasultanan Keraton Pajang yang dipimpinnya.

"Kami punya legalitas sebagai Yayasan Kasultanan Keraton Pajang dengan SK dari Menkum Ham bernomor AHU- 2190. AH.01.04 Tahun 2011, dan Akte Notaris," jelasnya, Jum'at (17/1/2020).

Diakui Suradi, ribuan keturunan Sultan Pajang yang dikenal dengan sebutan sisa-sisa laskar Pajang sebenarnya masih eksis dalam melestarikan budaya kerajaan Islam seperti Kasultanan Demak yang merupakan cikal bakal Kesultanan Pajang.

"Keturunan Sultan Pajang itu selain dari Demak, juga ada yang dari Malang, dan Sidoarjo di Jawa Timur. Mereka masih aktif sampai sekarang. Untuk yang diluar Jawa kami belum tahu," ujarnya.

Tidak seperti KAS Purworejo pimpinan Totok yang kini sudah ditangkap polisi, di yayasan Kasultanan Karaton Pajang, Suradi mengatakan untuk menjadi anggota tidak ada syarat administrasi berupa kutipan sejumlah uang.

"Disini, tujuan saya sebagai pengabdi Keraton Pajang untuk melestarikan budaya yang dulu pernah dibangun oleh Joko Tingkir. Setelah sekira 400 tahun vakum, saya dapat amanah untuk membangkitkan kembali," ucapnya.

Di kawasan yang merupakan milik pribadi Suradi ini terdapat sejumlah bangunan seperti Masjid Agung Surowijayan, Balai Agung, dan pintu gerbang besar yang berada didepan komplek. Selain itu, disebutkan juga ada benda - benda bekas Keraton Pajang.

“Sejumlah benda bekas Keraton Pajang itu merupakan warisan budaya. Selain itu terdapat warisan adat istiadat termasuk tarian pusaka dan prosesi adat jumenengan yang mendapat perlindungan sebagai cagar budaya,” katanya.

Suradi mengatakan, sejak 12 tahun lalu berdiri, dalam beraktifitas pihaknya selalu menggundang instansi pemerintah dari tingkat desa hingga kabupaten, dan melibatkan masyarakat sekitar.

"Kegiatan yang kami lakukan, murni kegiatan budaya. Ada tujuh kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun. Yakni Peringatan Malam 1 Suro, Kirab Pusoko, Jumenengan Keraton Pajang, Napak Tilas Joko Tingkir, Haul Joko Tingkir, Wilujengan dan Syawalan," sebutnya.

Disebutkan pria yang mengaku keturunan Ki Ageng Turus,yakni saudara Kebo Kanigoro, ayah Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya ini, bahwa setiap menggelar kegiatan pihaknya membiayai dengan dana pribadi.

"Kami tidak meminta iuran kepada anggota lain. Kami juga tidak menjanjikan dan tidak memaksakan pada abdi atau masyarakat untuk iuran," tandasnya.

Terpisah, Kepala Desa Makamhaji Agus (Simbah) Purwanto, menanggapi keberadaan Yayasan Kasultanan Keraton Pajang di wilyahnya mengakui selama ini kegiatan yang diselenggarakan sebatas ritual budaya seperti pada umumnya adat Jawa.

"Hanya saja tidak semua warga kami dilibatkan. Kebanyakan mereka merupakan pendatang dari luar daerah. Oleh karenanya, kami berencana akan menata agar keberadaan petilasan itu dapat membawa manfaat ekonomi bagi warga sekitar," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Kadek Arya Wiguna

Share this Article :