Rekomendasi

Fantasi Indonesia Adicipta Paundrakarna, Semarakkan Gelar Budaya Setuponan di Pura Mangkunegaran

Minggu, 19 Januari 2020 : 11.58
Published by Hariankota
SOLO - Karya besar seni tari besutan Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Suryo Jiwonegoro, lewat Adicipta Paundrakarna Production, untuk kali ketiganya digelar di Bangsal Prangwedanan Pura Mangkunegaran Solo, pada Sabtu (28/1/2019) malam.

Reportoar tari spektakuler karya cucu proklamator kemerdekaan Republik Indonesia Ir. Soekarno ini, ditampilkan dalam rangka Pagelaran Setuponan (Sabtu Pon) sebagai pertunjukan seremonial memperingati hari kelahiran Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX yang diprakarsai oleh Pura Mangkunegaran bersama Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta.

Sendratari bertajuk ‘Fantasi Indonesia’ karya GPH Paundrakarna ini, menampilkan 25 orang penari profesional andal Kota Solo dengan iringan musik kolosal karya cipta Guruh Sukarno Putra bersama komposer gaek (Almarhum) Elfas Secioria dan Erwin Gutawa.

Terlibat pula di dalam karya besar ini, penata cahaya kenamaan Kota Solo, yakni Joko Jazz beserta penata suara dan juru rekam andal Dasilva Aprianto dan Rudi Lehhor dipadu dengan sound system yang memadai dari Haryo Dananjoyo.

Fantasi Indonesia merupakan tarian yang berkonsep tentang keagungan budaya dan kekayaan Tanah Air Indonesia yang dikemas secara apik dalam setiap keluwesan gerak penarinya.

Perhelatan acara ini pun sebagai bentuk hiburan dan edukasi pelestarian budaya yang disampaikan melalui keragaman gerak kontemporer dengan dasar tarian serta busana Nusantara.

Sehingga lebih memberi makna tentang rasa cinta dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Acara ini juga turut dimeriahkan dengan Tari Sobrak dari Sanggar Tari Soeryo Soemirat GPH Herwasto Kusumo.

Tarian ini menggambarkan kekompakan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat yang disuguhkan oleh 5 orang penari, yang diinspirasi oleh GPH Herwasto Kusumo (Gusti Heru) dari kesenian rakyat yang hidup seperti Soreng, Bareng dan Dolalak.

Adapun sebuah tarian khas Jawa Timur, yakni Tari Remo Bolet dipersembahan dari SMKN 2 Nganjuk. Tarian ini beecerita tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan pertempuran.

Tak hanya menyuguhkan tarian, seni monolog Mijil 'Kelahiran Baru' karya Teater Ruang Hening lewat penampilan seniman cilik, Sutrisno pun turut tersaji dan memberi warna di atas panggung pementasan.

Selain memberi apresiasi, Direktur Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) Surakarta, Budi Utomo mengungkapkan. Sebagai keluarga besar akademisi Mangkunegaran Surakarta, pihaknya memgaku bangga dan patut memperjuangkan akademisi Mangkunegaran agar menjadi lebih baik.

"Saya kira tidak mustahil apabila akademisi Mangkunegaran ini juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Setidaknya, perhatian pendanaan maupun perhatian terhadap visi misi untuk terus menggali, mengembangkan bakat dan merekontruksi budaya yang sangat besar yang terkandung di dalam Pura Mangkunegaran ini," terangnya di sela acara.

Sebagaimana diketahui, pagelaran budaya Setuponan di Pura Mangkunegaran ini rutin digelar setiap 35 hari sekali, dengan menampilkan karya seni dan budaya Indonesia khususnya budaya Jawa lewat seni tari, hingga ragam seni pertunjukan yang menarik lainnya.

Jurnalis: Kacuk Legowo

Editor: Jumali

Share this Article :