Rekomendasi

Geger Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Putra PB XII : Itu Kerajaan Mimpi

Rabu, 15 Januari 2020 : 19.51
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Salah satu putra keturunan Paku Buwono XII, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Soerya Wicaksono, menanggapi kehebohan munculnya Keraton Agung Sejagat (KAS) di Kabupaten Purworejo.

Menurutnya, itu hanya halusinasi sekelompok orang yang tercuci otaknya.

"Ratu (Raja-Red) ketoprak. Mereka hanyalah orang- orang yang berhalusinasi tinggi dengan masyarakat pengikut yang dicuci otaknya untuk pengen punya jabatan dengan gaji tinggi di kerajaan mimpi," kata pria yang akrab dipanggil Gusti Nino ini kepada hariankota.com, Rabu (15/1/2020).

Gusti Nino yang kini tinggal di Pesanggrahan Langenharjo, Grogol, Sukoharjo mengatakan, berita viral itu otaknya bukan orang Purworejo melainkan Totok Susanto warga Sleman, DIY.

Sebelumnya pernah membuat kegiatan serupa di Jogja tapi tidak laku.

"Maka dia ingin membawa pengikutnya pindah markas ke Desa Pogung Ujung Tengah, Kabupaten Purworejo. Untuk diketahui disitu justru penduduk Desa Pogung sendiri sebenarnya tidak tahu, karena hanya empat orang warga Pogung yang jadi anggota," sebutnya.

Dalam kasus ini kata Gusti Nino, yang dominan adalah unsur penipuan, karena untuk menjadi anggota kerajaan bagi masyarakat yang berminat harus membayar sesuai jabatan yang diinginkan.

"Paling sedikit mereka bayar Rp. 2,5 juta per orang, bahkan ada yang lebih yaitu, untuk beli seragam dan segala macam atribut. Dan yang penting juga untuk diketahui, kabarnya anggota kerajaan Pogung (KAS-Red) itu, ternyata datang dari seluruh Indonesia," ucapnya.

Diantaranya ada yang dari Pekan Baru juga ada yang dari Lampung, Sumatera. Untuk masyarakat Purworejo sendiri kata Gusti Nino hanya sekitar 30 orang atau tidak sampai 10% dari total yang diberitakan selama ini.

"Kalau mengklaim sebagai keraton mestinya ada sejarahnya. Sejarah yang panjang sebelum ada NKRI, sarat dengan budaya, kearifan lokal, perjuangan dan yang lainnya.

Selain itu ada trah /nazab asal usul keluarga juga tercatat jelas. Jangan ujug - ujug (mendadak-Red) memunculkan keraton tanpa hal yang jelas alias mimpi," tandasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Gunadi

Share this Article :