Rekomendasi

Meluruskan Sejarah, Siapa Pencipta Kidung Wahyu Kalaseba

Minggu, 19 Januari 2020 : 17.07
Published by Hariankota
SUKOHARJO – Tembang sakral Kidung Wahyu Kalaseba (KWK) sering diputar di berbagai acara. Baik sebagai backsong untuk pengajian, kebudayaan, di tempat orang hajatan, bahkan sebagai closing di sebuah acara TV Nasional.

Di media sosial, banyak informasi yang salah kaprah mengenai siapa pencipta Kidung Wahyu Kalaseba (KWK). Di situ ditulis, KWK diciptakan oleh Walisongo, ada juga yang menulis diciptakan oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Syech Siti Jenar, dan lain-lain.

Di Sukoharjo, tepatnya di Dukuh Karangwuni, Desa Karangwuni, Kecamatan Weru, seorang budayawan millennial bernama Sri Narendra Kalaseba (SNK) menyatakan, bahwa KWK merupakan buah karya ciptaannya yang dilaunching pada Juli 2014 di Taman Budaya (TBS) Solo.

"Waktu itu yang melaunching teman saya, Mas Andi Zate dan Mas Mamank Zhe, keduanya seniman. Saya waktu itu tidak bisa hadir karena sibuk," jelas Sri Narendra kepada hariankota.com, Minggu (19/1/2020).

Dituturkan pria yang dikenal sebagai pengusaha batik ini, awal mula KWK tercipta, Waktu itu usianya masih tergolong muda yaitu, 23 tahun. Saat itu pertama kali ia punya niat kuat untuk menggubah KWK.

"Jangan dipikir KWK selesai dalam hitungan hari atau bulan? KWK saya ciptakan memakan waktu sembilan tahun, sejak tahun 2004 sampai 2012," paparnya.

Selama berbulan-bulan, Sri Narendra mengaku pernah hanya sanggup menciptakan satu baris syair saja. Namun lama-lama dengan dorongan tekad kuat pantang menyerah, ia dapat menyelesaikan syairnya.

Menurutnya, syair KWK bergenre kidung yang di dalamnya mengandung unsur filosofi, theology, human interest, dan syairnya tidak lekang dimakan jaman. Bila diresapi dengan seksama, KWK sangat sakral namun bukan mistis.

KWK terinspirasi oleh ajaran Walisongo, saat ia mempelajari pada belasan kitab kuno, yang dimiliki leluhurnya. Pertama, ia mengaku menyukai sastra Jawa Kuno, lalu mempelajarinya, setelah itu menguasai. Sehingga syair KWK bisa dikatakan selevel karya pujangga.

Menyinggung alasan kenapa baru sekarang ia baru mempersoalkan, Sri Narendra mengatakan, semula ia tidak ambil pusing dengan maraknya disinformasi tentang siapa pencipta sesungguhnya KWK.

Namun karena desakan para pecinta KWK yang jumlahnya bukan lagi ratusan ribu orang namun sudah mencapai jutaan orang, Sri Narendra akhirnya secara resmi melalui awak media, menjelaskan bahwa KWK adalah ciptaannya.

"Ini bukan masalah untuk mempopulerkan nama saya, bukan. Saya tidak ingin popular dengan cara menjadi artis. Tapi ini masalah meluruskan sejarah. Kalau sejarah ini tidak saya luruskan, bagaimana anak cucu kita kelak?," tegasnya.

Ia tak ingin generasi muda sekarang dan yang akan datang harus terus menerus mengkonsumsi berita hoax tentang simpang siur siapa sebenarnya pencipta KWK.

"Saya saja yang masih hidup, sudah banyak pihak-pihak yang tidak mengakui bahwa KWK karya saya. Bagaimana dengan sejarah lainnya, yang saksi hidupnya sudah tidak ada? Apakah tidak ada potensi untuk dibelokkan? Bahaya itu," tegasnya.

Namun saat ditanya lebih lanjut, apakah dirinya akan mempermasalahkan secara hukum kepada pihak-pihak yang telah menyebar hoax mengenai KWK. Sri Narendra dengan tegas menjawab tidak.

"Saya sudah memaafkan para penyebar hoax dan niat saya hanya ingin meluruskan sejarah. Saya juga tidak akan pernah menggelar konser dengan melantunkan KWK. Saya sering menolak undangan untuk mebawakan KWK secara live pada berbagai acara," ucapnya.

Sri Narendra juga tak mempersoalkan jika tembang KWK dibawakan dengan beragam versi seperti pop, karawitan, dangdut, bahkan koplo sekalipun.

"Anggap saja KWK itu obat untuk anak-anak, yang harus divariasikan berbagai model agar tertarik untuk meminumnya. Biarkan para millennial yang tidak tahu kidung menjadi tahu dengan versi yang disukainya," pungkasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Jumali

Share this Article :