Rekomendasi

Minat Baca Buku Rendah, Pemkab Sukoharjo Bangun Perpustakaan Ala Cafe di Desa

Senin, 06 Januari 2020 : 18.13
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Sebuah upaya menumbuhkan minat baca buku,ditengah derasnya arus penggunaan internet, Dinas Arsip dan Perpustakaan Sukoharjo menginisiasi berdirinya perpustakaan desa dengan konsep ala cafe.

Sebagai proyek percontohan, perpustakaan bernama Wasis Library & Cafe resmi berdiri di Desa Bentakan, Kecamatan Baki mulai, Senin (6/1/2020). Tujuannya membantu masyarakat desa dalam mencari informasi dan ilmu pengetahuan.

Disadari, saat ini kegiatan membaca bagi sebagian orang merupakan hal yang membosankan. Berjam-jam duduk membaca sebuah buku dinilai menyita waktu. Dalihnya, aktivitas setiap hari membuat waktu untuk membaca menjadi semakin sedikit.

Indikasi tersebut diperparah dengan perkembangan media informasi yang bersumber dari internet. Arus informasi tanpa filter menjadi lebih cepat dan mudah sehingga banyak disalahgunakan, khususnya oleh anak- anak muda.

Banyak masyarakat, terutama siswa sekolah lebih memilih menggunakan data internet untuk mengerjakan tugas ketimbang berusaha mencari jawaban di buku semisal mengunjungi perpustakaan. Buku menjadi pilihan kesekian dalam mengerjakan tugas.

"Ini merupakan perpustakaan desa ke tujuh yang kami jadikan unggulan, khusus dengan konsep milenial yaitu, mengkombinasikan antara perpustakaan dan cafe," kata Tunardi, Pustakawan Ahli Madya dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Sukoharjo kepada hariankota.com.

Mengingat sekarang usia anak - anak milenial jumlahnya cukup banyak, maka dengan konsep kekinian ala cafe, diharapkan membaca buku diperpustakaan menjadi lebih menyenangkan, sesuai visi dan misinya yakni, untuk mencerdaskan.

"Saat ini perpustakaan dituntut bisa berperan mendukung suksesnya pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan PBB sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2030, Selain itu juga mendukung GLN (Gerakan Literasi Nasional)," terang Turnadi.

Ada 10 kelas utama koleksi buku yang disediakan sesuai standar perpustakaan nasional meliputi, agama, psikologi, komputer, ilmu sosial, ilmu terapan, geografi hingga sejarah. Selain itu, koleksi buku braille untuk kaum tuna netra juga disediakan.

"Sementara ini kami sudah menyediakan koleksi buku untuk umum di perpustakaan Bentakan sebanyak 850 eksemplar. Kalau buku braille ada sekitar 9 eksemplar, ditambah buku koleksi anak sebanyak 19 item," imbuhnya.

Antusiasme ditunjukkan Kepala Desa Bentakan, Edy Padmo Putro atas berdirinya perpustakaan dengan konsep kekinian di desa yang dipimpinnya. Setidaknya dengan adanya perpustakaan, minat anak - anak untuk membaca buku akan tumbuh.

"Jadi anak - anak kecil itu biar tidak hanya bermain game internet saja. Mereka dapat membaca buku disini dengan ditemani orang tuanya, bahkan bisa sambil membeli jajanan yang ada. Intinya biar mereka betah dan senang membaca," tandas Edy.

Jurnalis: Sapto Nugroho

Editor: Gunadi

Share this Article :