Rekomendasi

Pengelola Petilasan Kasultanan Karaton Pajang Tak Akui Suradi Sebagai Sultan Penerus Joko Tingkir

Kamis, 23 Januari 2020 : 17.28
Published by Hariankota

SUKOHARJO - Berdirinya Yayasan Kasultanan Karaton Pajang (YKKP) yang dipimpin Suradi dengan bergelar Sultan Prabu Hadiwijaya Khalifatullah IV menuai penolakan dari pengelola Petilasan Kasultanan Karaton Pajang (PKKP).

Keberadaan Yayasan KKP banyak yang menilai merupakan satu kesatuan dengan Petilasan KKP. Padahal sejatinya berbeda. Oleh Pemkab Sukoharjo, Petilasan KKP sejak 2014 lalu telah terdaftar sebagai cagar budaya.

Dengan lokasi sama di Dukuh Sonojiwan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, antara Yayasan KKP dan Petilasan KKP hanya di batasi pagar tembok tinggi. Pintu masuk bekas keraton Joko Tingkir ini berupa gapura dengan sepasang arca Gupala didepannya.

"Petilasan KKP sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yayasan KKP," terang Raden Dhimas Katja selaku pengelola sekaligus penasehat budaya Petilasan KKP saat ditemui hariankota.com. Kamis (23/1/2020).

Dituturkan, menurut sejarah, sejak Joko Tingkir dinobatkan menjadi Kanjeng Sultan Hadiwijoyo di Kasultanan Karaton Pajang selama 3 tahun di Demak, dan selama 11 tahun di Keraton Pajang mulai 1568 sampai 1582. Sejak itu tidak ada lagi raja atau sultan yang dinobatkan.

"Termasuk anak kandung Sultan Hadiwijoyo sendiri yang bernama Benowo dari istri selir yang berasal dari Jipang Panolan. Ia tidak lagi bisa menduduki tahta kerajaan hingga akhir hayatnya," tandasnya.

Dari rangkaian sejarah tersebut, Raden Dhimas Katja menyakini bahwa klaim adanya penerus Kasultanan Karaton Pajang sama sekali tidak mendasar karena tanpa dukungan data atau silsilah yang jelas.

"Di petilasan ini punya agenda rutin sendiri yakni, gelar budaya berupa ritual mengganti Songsong (payung-Red) Agung Tungul Rojo, dan gerebeg agung Petilasan KKP setiap bulan besar dalam penanggalan Jawa," jelasnya.

Meski saling berseteru, dua kelompok antara Yayasan KKP dan pengelola Petilasan KKP tetap eksis dengan misinya masing - masing yakni, sama - sama menjaga kelestarian Budaya Jawa.

Berbeda dengan Yayasan KKP pimpinan Suradi, di kawasan Petilasan KKP yang saat ini sedang dalam tahap renovasi, tempatnya lebih terbuka dan teduh dengan sejumlah pohon besar di dalamnya. 

Setelah masuk melewati gapura, pengunjung langsung dapat mengakses menuju pendopo, taman sari, mushola serta lokasi yang disebut tempat ditemukannya batu umpak (landasan tiang kayu penyangga bangunan) Keraton Pajang.

"(Jadi) yang berhak menobatkan seseorang menjadi sultan atau memberi gelar itu hanya Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran Solo, Keraton Kepatihan dan Kasultanan Jogya, Keraton Kanoman dan Kasepuhan Cirebon," tandasnya.

Jurnalis: Sapto Nugroho
Editor: Jumali


Share this Article :