Rekomendasi

Seperti Apa Hukuman Pembinaan 1 Tahun di LKSA pada Pelajar Pembunuh Begal

Jumat, 24 Januari 2020 : 03.00
Published by Hariankota
MALANG - Hakim memvonis ZA, pelajar pembunuh begal asal Malang harus menjalani hukuman pembinaan di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Keputusan hakim ini dilandasi dengan usia ZA yang masih dibawah umur. Dalam menjalankan persidangan sendiri, aparat hukum menggunakan undang - undang nomor 11 tahun 2012 mengenai Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Sesuai aturan yang berlaku di undang - undang tersebut anak yang terjerat kasus hukum bisa dilakukan pembinaan oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas).

Di LKSA yang juga Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Aitam ini, nantinya ZA akan menjalani keseharian seperti anak kos selama satu tahun. Meski demikian, ZA tetap diperkenankan untuk bersekolah sampai lulus.

"Dalam LKSA yang sekaligus Ponpes itu, ZA masih bisa bersekolah di sekolahnya. Jadi gambarannya seperti anak kos, pulang ke Pondok dan di sana nanti dia ikut sejumlah kegiatan, kayak orang mondok biasa, ya karena lokasinya ini Ponpes," ujar Pendamping petugas Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Malang dalam kasus ZA, Indung Budianto.

Menurut Indung, penempatan ZA di Ponpes yang juga LKSA ini lantaran adanya kerjasama antara Bapas Kelas 1 Malang dengan pihak Ponpes.

"Jadi LKSA ini merupakan MOU antara Bapas Malang yang menangani anak yang bermasalah hukum. Nantinya anak itu akan dibina dalam LKSA Darul Aitam, ini khusus untuk Malang raya," terang Indung ditemui usai sidang vonis di PN Kepanjen, Kamis siang (23/1/2020).

Selama di LKSA Darul Aitam, nantinya ZA akan dilakukan pembinaan dengan sejumlah kegiatan yang berorientasi pembenahan pada mental dan spiritualnya.

"Pembinaan mental diberikan ya seperti diberikan pengetahuan agama sesuai porsinya. Kalau waktunya ya sekolah biasa saja. Jadi dia ya seperti santri biasa, mondok ya ngaji, ya ikut kajian agama begitu," tukasnya.

Sebagai informasi pelajar pembunuh begal ZA divonis bersalah oleh majelis hakim yang dipimpin oleh Nuny Defiary. ZA dijerat dengan pasal 351 ayat 3 mengenai penganiyaan yang menyebabkan kematian dan harus menjalani hukuman pembinaan di LKSA selama satu tahun.

Kasus hukum yang menimpa ZA ini berawal pada pada Minggu malam 9 September 2019 keluar bersama pacarnya di kebun tebu Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, dihadang oleh sekelompok kawanan pembegal.

Dua orang mencoba merampas sepeda motornya dan handphone ZA. Tak cukup disana saja, pelaku juga berusaha memperkosa pacar ZA yang berinisial V.

Namun korban ZA memberikan perlawanan dan menusukkan pisau yang diambilnya dari dalam jok sepeda motor miliknya hingga menewaskan seorang begal bernama Misnan. Alhasil dua pelaku begal lainnya pun melarikan diri melihat rekannya.

Sehari setelahnya polisi mengamankan ZA dan menetapkan tersangka atas dugaan penganiyaan hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Namun lantaran masih berstatus pelajar ZA tak di penjara.

Jurnalis; Miadaada
Editor: Gunadi


Share this Article :