Rekomendasi

Soal Munculnya "Kerajaan", Bupati Desak Pemerintah Bertindak Tegas

Jumat, 24 Januari 2020 : 21.01
Published by Hariankota
KARANGANYAR - Munculnya sejumlah “kerajaan” dan sempat membuat heboh, mendapat tanggapan dari berbagai kalangan. Salah satunya dari bupati Karanganyar, Juliyatmono.

Kepada hariankota.com, serta awak media lain usai rapat paripurna DPRD, Jumat (24/01/2020) Juliyatmono mengatakan bahwa munculnya kerajaan ini, sebagai romantisme sejarah masa lalu.

Menurut bupati, sejumah faktor, menjadi penyebab munculnya kerajaan ini.

“Salah satunya karena saluran mereka tersumbat dan tidak memiliki wadah atau saluran untuk mengaktualisasikan keberadaan mereka. Maka jalan pintasnya adalah romantisme, mendesain seolah-olah dia keturunan raja, darah biru.

Dengan cara ini, mereka ingin menunjukkan eksistensi mereka,” jelas bupati, Jumat (24/01/2020)

Terhadap fenomena munculya kerajaan ini, ujar bupati, pemerintah harus mengambil sikap tegas. Pasalnya, lanjut bupati kemunculan kerajaan ini, sangat bertentangan dengan bentuk Negara, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Pemerintah harus mengambil tindakan tegas. Jangan sampai kemunculan kerajaan ini berdampak luas dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Negara kita tidak akan mungkin kembali ke sistem kerajaan.

Kalau sebuah kebudayaan, atau paguyuban untuk menjaga kelstarian budaya,tidak masalah. Tapi kalau sampai muncul sebuah kerajaan, ini tidak boleh terjadi,” tandasnya.

Disisi lain, bupati juga menyinggung tentang prasasti Giyanti yang berada di Kelurahan Jantiharjo, Karanganyar Kota. Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada tanggal 13 Februari 1755 tersebut, merupakan pemisahan kerajaan Mataram menjadi dua bagian.

Yakni Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta.Dan menjelang kemerdekaan, kedua kerajaan Mataram ini, bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Lokasi ini nantinya akan kita jadikan sebagai salah satu perpustakaan, bahwa di wilayah Karanganyar pernah menjadi lokasi ditandatanganinya perjanjian Giyanti yang berisi pemisahan dua kerajaan Mataram.

Lokasi Ini sebagai pusat studi, dan untuk merawat kebudayaan, dan bukan untuk membentuk kerajaan baru,” pungkasnya.

Jurnalis : Iwan Iswanda
Editor : Mahardika

Share this Article :