Rekomendasi

Wacana Penghapusan UN, Ini Penjelasan Disdikbud Karanganyar

Kamis, 02 Januari 2020 : 19.42
Published by Hariankota
KARANGANYAR - Meski Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) membuka wacana akan menghapus ujian nasional (UN), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karanganyar, tetap akan melaksanakan UN, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Hal terseut dikatakan kepala Disdikbud Karanganyar, Tarsa, kepada hariankota.com, Kamis (02/01/2020). Menurut Tarsa, pelaksanaan UN, sejak awal telah direncanakan setiap tahun. Meski ada wacana penghapusan, ujarnya, maka UN akan tetap berlagsung.

“Masih seperti yang direncanakan. UN tetap berlangsung. Untuk selanjutnya, kami menunggu keputusan Mendikbud, apakah UN dihapus atau tidak,” kata dia, Kamis (02/01/2019).

Disisi lain, wacana penghapusan UN serta menghapus pekerjaan rumah (PR) bagi siswa , lanjut Tarsa, akan berdampak pada motivasi belajar anak didik itu sendiri semakin berkurang. Pasalya, jelas Tarsa.

“Kami ada kekhawatiran, jika UN dan PR tidak ada atau dihapus sama sekali. Hal ini akan berakibat kurangnya motivasi belajar anak. Dalam pembelajaran, ada yang namanya teori motivasi. Dan saat ini, yang menjadi motivasi terkuat itu adalah UN dan PR.

Ditambahkannya, saat ini banyak anak atau pelajar, cenderung tidak memiliki semangat kompetisi. Mereka beranggapan, sekolah yang penting masuk, pasti akan lulus. “Itu lah yang kita khawatirkan, semangat kompetisi siswa tidak kuat untuk meraih prestasi,” tandasnya.

Ketika disinggung mengenai konsep merdeka belajar, Tarsa menjelaskan, jika konsep yang juga menjadi wacana ini, bertujuan agar siswa lebih leluasa dan tidak terkekang dengan sistem pembelajaran.

Pada dasarnya, masih menurut Tarsa, merdeka belajar adalah perubahan yang dilakukan oleh guru dalam sistem pembelajaran.

“Sementara ini kan di dalam kelas. Dalam merdeka belajar ini, diberi kebebasan, berinteraksi. Saya akui memang saat ini, sistem pembelajaran yang dilakukan para guru saat ini cenderung teori sentris.

Sedangkan untuk mengolah keterampilan motorikk, keterampilan berpikir, belum mendapat tempat yang begitu kuat Disinilah nanti akan diterapkan merdeka belajar,s ecara intelektual pinar, prakteknya juga pintar,” pungkasnya.

Jurnalis: Iwan Iswanda

Editor: Rahayuwati

Share this Article :