Rekomendasi

Bawa Gagasan Disrupsi, OKP ini Anggap Tomi Patria Paling Cocok

Selasa, 04 Februari 2020 : 21.46
Published by Hariankota
TANGSEL - Dalam kontestasi Pilkada, gagasan-gagasan kolot seperti calon yang memiliki uang dan kedekatan terhadap 'penguasa' akan menang, nampaknya sudah tidak lagi dapat diterapkan di era demografi seperti saat ini.

Hal tersebut dikatakan salah seorang Kader Organisasi Kepemudaan dari Suara Karya Anak Bangsa (SKAB) Bagas Ario Bimo. Bagas menyatakan, gagasan kolot tentunya kurang pas diterapkan di era demografi dan disrupsi seperti saat ini.

Pasalnya, kata Bagas gagasan disrupsi yang digaungkan oleh kaum muda, tentunya akan 'mengganggu' paradigma kolot seperti yang terjadi di era-era belakangan.

"Kandidat yang berpasangan dengan generasi muda, akan memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri. Pilkada ke depan akan diwarnai isu keterwakilan (anak muda) sebagai representasi diri. Paling penting tokoh-tokoh muda ini berani berada di posisi depan, tidak lagi sekedar menghangatkan kursi-kursi tim sukses. Kita ingin ada perubahan signifikan di Tangsel, dan harapan itu akan mampu terlaksana jika ada tokoh muda yang memimpin," kata Bagas, Selasa (4/2/2020).

Bagas menambahkan, tokoh muda yang membawa gagasan disrupsi dalam konteks dimaksud tentang managemen dan kinerja birokrasi sebagai pelayan masyarakat.

Menurutnya, tiga tokoh muda yang membawa gagasan disrupsi adalah Fahd Pahdepie, Suhendar dan Tomi Patria.

"Ini yang menjadi harapan terhadap ketiga tokoh muda di Tangsel. Semua punya keunggulannya masing-masing, tapi yang penting tokoh muda harus diberikan kesempatan dan ruang untuk berkontribusi nyata dalam pilkada 2020 besok," tambahnya.

"Namun kalau soal perbandingan kepemimpinan rasanya dari ketiga tokoh tersebut Tomi lebih unggul dan terbukti dengan berbagai pengalamannya baik sebagai seorang organisatoris maupun birokrat, tapi kalau soal ide dan semangat rasanya semua ketiga tokoh tersebut mempunyai kualitas yang sama baiknya," tandasnya.

Menanggapi hal tersebut, Tomi Patria menyampaikan bahwa pemuda saat ini perlu diberi ruang untuk berdikusi dan berdialog. Pemuda saat ini hanya menjadi objek kebijakan, bukan menjadi pelaku pengambil kebijakan.

"Kita perlu memberikan ruang dan kesempatan kepada pemuda untuk menjadi subjek pengambil kebijakan. Saat ini, saya pribadi melihat banyak pemuda yang memiliki potensi, namun 'takut' untuk maju kedepan, sekarang waktunya pemuda yang mengambil alih, dan menjadi subjek atau pelaku kebijakan, baik dalam wirausaha, dalam politik dan dalam pemerintahan," kata Tomi.

"Solusi saat ini, pemuda perlu dipermudah dalam menyampaikan gagasan, berikan kemudahan modal untuk berwirausaha dan berkreasi. Sehingga pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan. Berikan juga kesempatan dan ruang bagi pemuda lokal, yang memang mengerti situasi dan kondisi di Tangsel," pungkasnya.


Reporter: Arie Kristianto
Penulis: Arie Kristianto
Editor: Mahardika

Share this Article :