Rekomendasi

Cerita Surono, Mantan Terpidana Kasus Terorisme, Bibit Radikalisme, Awal Terjadinya Gerakan Terorisme

Sabtu, 15 Februari 2020 : 19.11
Published by Hariankota
KARANGANYAR - Terjadinya kasus terorisme di Indonesia, lebih disebabkkan karena sejak awal para pelaku telah memiliki bibit radikalisme. 

Bibit radikalisme ini, kemudian dengan cepat diolah oleh pihak yang berkepentingan yang menginginkan terjadinya kekacauan.

Hal tersebut diungkapkan mantan terpidana kasus terorisme, Surono, dalam diskusi publik Perkokoh Persatuan dan Kesatuan, Bersama Melawan Terorisme, yang berlangsung di gedung DPRD Karanganyar, sabtu (15/02/2020).

Surono yanag pernah mendekam di sel tahanan karena menyimpan bahan peledak dan harus mendekam di penjara sejak tahun 2003 hingga tahun 2007 tersebut, dihadapan para peserta diskusi, mengungkapkan,  selama dipenjara  bertemu dengan terpidana bom Bali 1, dan banyak mendappatkan ilmu terorisme dari sel tahanan.

“ Saya dapat ilmu terorisme dari penjara. Kenapa bisa jadi teroris? Baik yang kanan maupun yang kiri sama. Mereka sudah ada bibit radikal. Begitu diledakkan oleh  oknum yang berkepentingan, maka langsung bergerak. Jika sudah radikal, maka akan sangat mudah dikemas. Untuk itu,  seemua pihak, tertama para generasi muda, agar hati-hati, waspad. Semua pihak harus bersatu melawan radikalisme ini,” ujarnya.

Saat ini, jelas Surono, seluruh elemen masyarakat, mulai  dari pemerintah, aparat keamanan, terus bergerak melawan dan menekan radikalisme agar tidak berkembang di masyarakat. Hanya saja, Surono  menyesalkan sejumlah pernytaan para pejabat yang justeru  membuat masyarakat menejadi radikal.

“ Kita aberusaha dari bawah agar radikalisme bisa berkurang, tapi malah banyak tokoh yang membuat pernyataan yang kontroversial yang juster u membuat dan memicu masyarakat menjadi radikal. Seperti pernyataan kepala BPIP yang menyatakan agama adalah musuh pancasila. Kan aneh sekali kalau dikatakan agama itu musuh pancasila. Lah yang membuat pancasila itu orang beragama,” tegasnya.

Untuk itu, ujar Surono, menjadi tugas semua pihak, mencegah dan mengurangi radikalisme. Yang diperlukan saat ini, menurut Surono, adalah sosialisasi persoalan terorisme hingga ke masyarakat tingkat bawah.

Sementara itu, ketua panitia diskusi, Yanuar Faisal, menyatakan, diisjkusi pubik ini, diikuti oleh hampir seluruh elemen masyarakat., dengan narasumber dari Kepolisian, TNI, Akademisi dan  mantan terpidana terorisme. 

Dijelaskannya, hasil diskusi publik ini, para peserta memperoleh gambaran tentang bahaya terorisme serta dapat menyamoaikan kedama masyarakat di lingkungan masing-masing.

Reporter: Iwan Iswanda
Penulis: Iwan Iswanda
Editor: Gunadi




Share this Article :