Rekomendasi

Dapat Restu Kyai NU, Yayasan Kasultanan Karaton Padjang Gelar Haul Joko Tingkir

Sabtu, 08 Februari 2020 : 20.57
Published by Hariankota

SUKOHARJO - Untuk kali pertama sejak resmi mengantongi izin pada Tahun 2011 dari Kemenkumham, Yayasan Kasultanan Karaton Padjang (YKKP) yang dipimpin Suradi dengan gelarnya Sultan Prabu Hadiwijaya Kalifatullah IV bakal menggelar Haul, atau peringatan wafatnya Joko Tingkir, Raja Karaton Padjang yang bergelar Sultan Hadiwijoyo.

"Joko Tingkir adalah raja pertama Padjang yang sudah beragama islam, keturunan Kanjeng Sepuh Kebo Kenonggo dari Pengging," kata Andi Budi Sulistijanto Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Sumber Daya (Lakpesdam) dari PBNU yang diberi kuasa sebagai juru bicara Suradi dalam penyelenggaraan haul, saat konferensi  pers, Sabtu (8/2/2020).

Dijelaskan, haul akan dilaksanakan, Minggu (9/2/2020) besuk, di kawasan YKKP Dukuh Sonojiwan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini merupakan bagian dari melestarikan budaya leluhur tentang bagaimana tata cara ritual - ritual dalam Karaton Padjang yang tidak lepas dari budaya - budaya kerajaan Islam jaman dulu, terutama yang berbasis di Majapahit.

"Ini (akan) menjadi kegiatan tahunan, karena haul sendiri bermakna untuk memperingati meninggalnya tokoh - tokoh atau ulama yang telah menjadi bagian dari keluarga besar setempat. Haul boleh saja dilaksanakan di manapun secara terpisah. Tujuannya untuk memberi penghormatan dan rasa syukur," terang Andi.

Kepada hariankota.com, Andi mengatakan, semakin banyak yang memberi penghormatan dengan menggelar haul, maka ditinjau dari visi Islam dan dari sisi budaya, menurutnya akan semakin bagus. Haul menjadi suatu kekuatan untuk menjaga ukuwah atau perekat tali silaturahmi sesama umat Islam.

"Ini bagian dari menyebarkan, bagaimana nama besar Joko Tingkir makin dikenal kembali oleh masyarakat luas. Ada sisi lain yang memang menjadi kerinduan kepada raja - raja atau tokoh yang dulu memeluk agama Islam dimunculkan kembali. Tujuannya agar kita tidak lupa sejarah," ujarnya.

Ia menyebut, bahwa haul Joko Tingkir sudah mendapat restu untuk digelar  dari sejumlah kalangan Kyai Sepuh NU, bahkan Ketua Umum PBNU, Said Agil Sirad juga berpesan bahwa, kalau memang ada petilasan keraton, atau bekas kerajaan yang tokoh-tokohnya beragama Islam mau menggelar haul untuk memberi penghormatan, dipersilahkan.

"Kanjeng Sultan (Suradi-Red) ini mempunyai niat yang tulus iklas sampai bisa mewujudkan sebuah masjid dan sebagainya. Yang membuat kami trenyuh lagi adalah, tidak lama lagi Kanjeng Sultan juga berniat mendirikan pondok pesantren disini. Tentu itu akan kami support dan mendukung agar bisa terwujud," sebutnya.

Andi pun menyakinkan bahwa keberadaan YKKP sama sekali berbeda dengan Keraton Agung Sejagat yang baru saja membuat heboh dengan aktivitasnya dan berujung pada penangkapan para tokoh - tokoh pendiri yang terlibat didalamnya. Mereka menjadi tersangka penipuan karena memungut iuran kepada para pengikutnya yang menginginkan mendapat gelar tertentu.

"Kalau Padjang (YKKP) ini jelas, dari sejarahnya memang ada kerajaan Padjang. Semua juga sudah tahu, bahwa disini bagian dari kerajaan Padjang, yang juga diabadikan menjadi nama kelurahan berbatasan dengan petilasan ini. Kalau ini bisa dimunculkan maka masyarakat akan mereview kembali keberadaan Karaton Padjang," tandasnya.

Oleh karenanya,  Andi menegaskan, yang tidak kalah penting dalam kegiatan haul ini adalah melakukan napak tilas ziarah ke makam Joko Tingkir yang disebutnya berada di Desa Buton, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen dengan mengambil awal perjalanan dari kawasan YKKP yang tepat bersebelahan dengan cagar budaya petilasan Joko Tingkir .

"Karena bagaimanapun juga, kisah Joko Tingkir kurang lebihnya dimulai dari titik di area ini. Dan nanti setelah sampai dimakam, kami akan menggelar do'a dan sholawat bersama - sama rombongan dari Ponpes Ad-Dhuha dan sejumlah jamaah lain. Rombongan ziarah besuk sekitar 10 mobil dengan pengawalan (Patwal) dari kepolisian," tutupnya.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Kadek Arya Wiguna


Share this Article :