Rekomendasi

Gagahi dan Peras Anak Tetangga, Pembina Perguruan Silat Ternama Jadi Buronan

Minggu, 23 Februari 2020 : 03.30
Published by Hariankota

SUKOHARJO - Seorang perempuan inisial DSH (29), selama dua tahun mengaku telah menjadi korban pelampiasan nafsu bejat dan pemerasan seorang pembina perguruan silat ternama yang beralamat tinggal di daerah Sragen yang tak lain tetangganya sendiri.

Korban yang kini bersuamikan warga Sukoharjo, akhirnya memberanikan diri melaporkan tersangka pelaku berinisial SWT (60) ke polisi dengan meminta bantuan hukum ke kantor LBH Solo Raya di Sentra Niaga, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo.

Sukadewa, dari LBH Solo Raya yang ditunjuk menjadi kuasa hukum menyampaikan, kasus ini terjadi diawali pada 2010 silam. Saat itu korban belum menikah dan tengah menimba ilmu menempuh perkuliahan di salah satu perguruan tinggi agama di Jombang, Jawa Timur.

"Karena orang tua korban sibuk, tersangka (SWT) sering diminta mengantar korban ke Jombang hingga akhirnya terbiasa selalu sering  mengantar," kata Sukadewa kepada hariankota.com dan awak media lain, Sabtu (22/2/2020) sore.

Dari kebiasaan mengantar ini, awalnya tidak ada masalah. Namun seiring perjalanan waktu, tersangka ternyata mulai timbul niat jahatnya menggagahi korban. 

Dengan modus beralasan membersihkan aura negatif, tersangka ingin meruwat atau melakukan ritual rukiyah kepada korban.

"Korban pada saat itu mengaku antara sadar dan tidak. Seperti kena guna - guna mengikuti kemauan tersangka untuk melakukan rukyah," ucap Sukadewa mengutip keterangan korban.

Ternyata apa yang disebut rukyah oleh tersangka, tidak dilakukan di sebuah tempat yang sakral atau keramat, tapi rukiyahnya di sebuah penginapan.

Dan dari peristiwa pertama itulah, tersangka selama dua tahun sering melakukan aksi bejatnya, melakukan hubungan badan dengan korban.

Tak hanya berhubungan badan, tersangka juga mengambil gambar saat korban sedang tak mengenakan busana di semua bagian tubuh. 

Sehingga dengan senjata foto itu, tersangka melakukan pemerasan terhadap korban hingga nilainya mencapai Rp 30 juta. Aksi pemerasan terjadi selama kurun waktu 2018 hingga 2019.

"Kalau tidak mentransfer uang, foto-foto itu akan disebarkan ke keluarga korban melalui pesan Whatsapp," ujar Sukadewa
.
Setelah kasus ini terbongkar dan dilaporkan polisi,  korban menurut Sukadewa, sudah tidak lagi menuruti keinginan tersangka ketika meminta transfer uang. Transfer sudah dihentikan.
Mengetahui perbuatannya dilaporkan ke Polres Sukoharjo dan Polres Sragen, tersangka melarikan diri. Saat hendak ditangkap, ia sudah pergi dari rumah dan selalu berpindah - pindah tempat.

"Saat kami datangi rumahnya, yang ada cuma istrinya. Tersangka ini punya 7 nomor hape, setelah kami lacak yang aktif hanya satu. Pada waktu kami telusuri rupanya dia berada di daerah Ngawi, Jatim. Namun setelah salah satu anggota kami datang kesana bersama polisi, rupanya dia sudah tidak ada," imbuhnya.

Mengingat kasus ini sudah hampir lima bulan sejak dilaporkan, Sukadewa pun berharap kepada polisi sesegera mungkin dapat menangkap tersangka pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dalam kasus ini, tersangka SWT sudah dilaporkan ke Polres Sukoharjo pada 19 Oktober 2019 lalu. Dia diancam jerat UU ITE sebagaimana dimaksud pasal 45 (1), dan atau pasal 45 huruf b UURI No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UURI  No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.

"Jika terbukti melanggar UU ITE, tersangka diancam hukuman enam tahun kurungan penjara," pungkasnya.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi


Share this Article :