Rekomendasi

Parpol di Pilkada 2020, Pengamat: Oligarki dan Transaksional

Jumat, 07 Februari 2020 : 05.09
Published by Hariankota
TANGSEL - Lemahnya para kader partai dalam kontestasi politik di Pilkada 2020, membuat beberapa kalangan menilai bahwa Partai Politik di era saat ini lebih mementingkan dinasti kekuasaan dan transaksional.

Hal tersebut terlontar dari Akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hamka yang berpendapat bahwa partai politik saat ini cenderung menjadi politik dinasti. Terlebih dalam mekanisme memilih kader untuk mengisi jabatan politis dengan faktor kedekatan atau karena bantuan politik.

"Partai politik sekarang itu cenderung menjadi politik dinasti. Oligarki politik berbasis dinasti politik yang mewarnai sistem kepartaian di Indonesia, ketika membuka kontestasi untuk jabatan-jabatan politik cendrung transaksional," kata Hamka kepada wartawan, Kamis (6/2/2020).

"Kenapa begitu? Karena faktor-faktor primordial seperti kedekatan, klik politik atau bantuan politik serta mahar, cenderung tidak fair ketika merekrut untuk jabatan-jabatan politik. Artinya oligarki politik berbasis dinasti cenderung tidak fair dan cenderung feodal, ini yang menghambat modernisasi partai politik di Indonesia," lanjutnya.

Hamka menambahkan, menurutnya hal itu terjadi karena faktor belum matangnya sistem partai di Indonesia. Fenomena tersebut secara teoritis terjadi pada masyarakat atau negara berkembang yang bertransformasi menjadi masyarakat modern.

"Dimana feodalisme politik masih terasa dan terlihat menjadi gejala umumnya dimasyarakat negara berkembang menuju masyarakat negara maju atau modern, yang diwarnai dengan fenomena terutama belum mapannya sistem politik. atau dalam hal ini sistem kepartaian." tuturnya.

Seperti diketahui, saat ini nama-nama yang muncul dalam pertarungan memperebutkan kursi nomor satu di Tangsel tersebut justru didominasi dari kalangan biroksasi dan akademisi.

Sebut saja Siti Nur Azizah, Tomi Patria, Muhammad, dan Benyamin Davnie berasal dari kalangan birokrasi, seta Suhendar dan Fahd Pahdepie yang berasal dari kalangan akademisi.

Reporter: Arie Kristianto
Penulis: Arie Kristianto
Editor: Jumali

Share this Article :