Rekomendasi

Situs Perjanjian Giyanti, Bukti Sejarah Pecahnya Kerajaan Mataram

Jumat, 14 Februari 2020 : 17.51
Published by Hariankota
KARANGANYAR - Pada tanggal 13 Februari 1755 atau tepatnya 265 tahun lalu, di Dusun Kerten, Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar Kota, dilakukan perjanjian yang membagi dua kerajaan Mataram Islam. Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Paku Buwono III, dan Gubernur VOC untuk Jawa Utara Hartingh menandatangani perjanjian ini.

Perjanjian yang kemudian dikenal dengan perjanjian Giyanti tersebut, menandai berakhirnya kejayaan kerajaan Mataram. Pasalnya, dengan campur tangan VOC, kerajaan Mataram Islam ini dibagi menjadi dua, yakni  Kasunanan Surakarta dan  Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Untuk mengenang perjanjian bersejarah tersebut,  warga Dusun Kerten, Desa Jantiharjo, Kamis (13/02/2020) malam, melakukan napak tilas penandatanganan perjanjian yang membelah kerajaan besar di tanah Jawa pada masa itu, menjadi dua bagian.

Pantauan hariankota.comnapak tilas perjanjian Giyanti ini, diawali dengan kirab budaya dengan membawa tiga gunungan yang berisi hasil bumi, buah-buahan, jajanan khas Kelurahan jantiharjo, arum manis. 

Ketiga gunungan inim keudian dibawa ke lokasi dan langsung didoakan seblum akhirnya menjadi rebutan warga sekitar
Pengelola situs perjanjian Giyanti, Ngadimin, mengatakan, kegiatan napak tilas ini dilaksanakan sejak tahun 1995 lalu, untuk mengenang kembali jika di wilayah Karanganayar ini, merupakan lokasi dilaksanakannya perjanjian pembagian wilayah kerajaaan Mataram menjadi dua.

“ Kita ingin memberikan pemahaman kepada generasi muda, bahwa di Dusun Kerten, Kelurahan Jantiharjo ini, sebagai salah satu lokasi bersejarah pembagian kerajaan Mataram . Perjalanan sejarah ini jangan sampai dilupakan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kelurahan Jantiharjo, Agus Cahyono menjelaskan, napak tilas perjanjian Giyanti ini, untuk mengenang perjalanan sejarah masa lalu. 

Agus Cahyono juga berharap, situs perjanjian Giyanti yang berada di wilayahnya tersebut, dapat dijadikan sebagai salah satu lokasi wisata sejarah baru.

 “ Kita aberharap, situs perjanjian Giyanti ini, dapat dijadikan  salah satu desa wisata sejarah. Hanya saja memamng perlu ada pengembangan dan penambahan sejumlah fasilitas penunjang. Jika desa wisata ini terwujud, saya yakin, akan berdampak ekonomi bagi warga,” kata dia.

Reporter: Iwan Iswanda
Penulis: Iwan Iswanda
Editor: Rahayuwati



Share this Article :