Rekomendasi

Anti Politik Kemasan, Permahi: Untuk Apa Kemasannya Bagus, Gagasannya Nol

Sabtu, 14 Maret 2020 : 19.48
Published by Hariankota
TANGSEL - Menyoal politik kemasan dalam Diskusi Publik yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi), Ketua Permahi Tangerang Athari Farhani berkomentar bahwa politik kemasan tidak baik diterapkan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

"Untuk apa kemasannya bagus, baik, tapi ternyata tidak memiliki gagasan untuk masyarakat. Gagasannya nol, untuk apa. Jadi kurang pas kalau diterapkan di Tangsel," kata Athari kepada wartawan, Sabtu (14/3/2020).

Hal senada disampaikan Aktivis Anti Korupsi Suhendar. Suhendar berpendapat bahwa politik kemasan adalah cara berpolitik hanya dengan mempercantik atau mengedepankan penampilannya saja, tanpa dibarengi dengan gagasan.

"Kalau saya memahami politik kemasan itu, kandidat berpolitik dengan hanya membangun kemasannya saja, penampilannya saja, tetapi miskin gagasan.
Misalnya dia besarkan bajunya, bahwa dia adalah tokoh, dia besarkan bajunya bahwa dia adalah seorang A, B dan sebagainya. Tapi soal bagaimana cara membangun tangsel, mengatasi kesenjangan, memberikan pemerataan dan keadilan nah itu ga ada," kata Suhendar.

"Biasanya politik kemasan ini, karena (kandidat) memang ditopang, karena dia banyak logistik, jadi dia memaknai politik itu sederhana, jual beli. Jadi cukup bangun kemasannya, kemudian siapkan logistiknya nanti dibagi-bagi uangnya, lalu menang. Soal gagasan bahkan engga ada, jadi dia membajak proses demokrasi," tambahnya.

Berbeda dengan Lurah Cipayung Tomi Patria yang turut hadir dalam gelaran tersebut. Tomi berpendapat bahwa, politik kemasan adalah seorang yang ingin maju menjadi pemimpin di Tangsel mengemas dirinya dan mempersiapkan dirinya, menjalin komunikasi dengan baik.

"Kaya singkong aja deh, cabut dibersihin, disajikan, ada yang dikukus, digoreng. Tapi kalau ada yang meraciknya bagus, bukan hanya ditaruh di piring, tapi dijual di supermarket, jadi orang yang belum kenal, jadi kenal. Politik kemasan itu baik, kan harus dikemas politik itu, agar menarik, enak dipandang, agar diminati banyak orang. Kalau kemasannya jelek orang juga melihatnya ogah," tandas Tomi.


Reporter: Arie Kristianto
Penulis: Arie Kristianto
Editor: Gunadi

Share this Article :