Rekomendasi

Chikungunya dan DBD, Preseden Buruk Kesehatan Dibawah Kepemimpinan Airin-Benyamin

Rabu, 11 Maret 2020 : 21.00
Published by Hariankota
TANGSEL - Setelah diserang chikungunya yang menjangkiti sedikitnya 130 orang, kini sedikitnya 87 warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal tersebut terjadi sejak Januari hingga Maret 2020 ini.

Geram melihat banyaknya warga yang terjangkit oleh penyakit yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti ini, Ketua Fraksi PSI DPRD Kota Tangsel Ferdiansyah angkat bicara. Dalam rilis resminya pria yang akrab disapa Ferdi tersebut menyesalkan upaya pencegahan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) yang diketahui diberi anggaran besar oleh Pemerintah Kota (Pemkot).

"Sebelumnya banyak warga di beberapa kelurahan di Tangsel diduga terkena virus chikungunya, dan saat ini virus DBD. Kejadian ini menjadi preseden buruk bagi pemerintah kota karena belum maksimalnya dalam melakukan tindakan preventif yang masif untuk mencegah terjangkitnya virus DBD ini," kata Ferdi kepada wartawan, Rabu (11/3/2020).

"Masyarakat harus selalu diberikan edukasi dan juga sosialisasi menyeluruh untuk menjalani pola hidup bersih. Pemerintah kota melalui dinas kesehatannya diberikan alokasi anggaran yang cukup besar untuk tahun 2020 ini. Dari alokasi tersebut harapannya dapat dimaksimalkan, salah satunya untuk mencegah kejadian-kejadian seperti ini," tambahnya.

Menurut Ferdi, kejadian serupa disinyalir hampir terjadi setiap tahun. Hal tersebut membuktikan, imbuhnya, kurangnya tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Pemkot Tangsel dibawah Airin Rachmi Diany dan Benyamin Davnie.

"Kejadian ini berlangsung hampir setiap tahun dan memakan korban pula. Dari kejadian ini, seharusnya pemerintah kota sudah dapat memetakan lokasi-lokasi mana saja yang berpotensi besar munculnya penyakit atau virus DBD ini. Dan juga pemerintah kota harusnya sudah menyiapkan program-program solutif terkait penanggulangan jika hal ini terjadi lagi," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Jumantik Kecamatan Pamulang Subekti mengatakan bahwa, meski telah dilakukan sosialisasi pencegahan DBD, lingkungan masyarakat belum dapat dipastikan terbebas dari DBD.

"Kalau ditanya aman dan berdasarkan data, belum aman (dari DBD). Selain harus minimal seminggu sekali, juga harus dilakukan bersama keseluruhan wilayah. Nyamuk kan ngga kenal batas-batas wilayah. Sebetulnya setiap minggu pagi jam 8.00 kami kirim WA edukasi tentang jumantik. Sayangnya tidak digubris. Orang lebih suka bahas korban dibanding bahas pencegahan karena ada sasaran tembaknya," kata Subekti.

Diketahui, sejak awal Maret sudah ada 14 pasien (teridentifikasi DBD), terbanyak berasal dari Kecamatan Pamulang. Total pasien DBD sejak Januari 2020 hingga saat ini, sedikitnya 87 orang yang terserang DBD.


Reporter: Arie Kristianto
Penulis: Arie Kristianto
Editor; Gunadi

Share this Article :