Rekomendasi

Mengharukan, KLB Korona Tak Surutkan Langkah Joko Widodo Ikut Nikah Massal

Minggu, 15 Maret 2020 : 16.28
Published by Hariankota

SOLO - Momen haru dan bahagia ditengah kewaspadaan penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) virus korona di Kota Solo, dirasakan tujuh pasangan peserta nikah massal di Wedangan W'Kobar, Banjarsari, Solo, Minggu (15/3/2020).

Salah satu pasangan, Joko Widodo (33) - Fitri Ayu Amelia (28) mengaku sudah sejak bulan Februari lalu telah merencanakan menikah secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA). Sebelumnya selama ini mereka sudah menikah siri sekira 3 tahun.
Himbauan atas penetapan Kota Solo KLB virus korona agar warga menghindari berkumpul dalam satu lokasi, tak menyurutkan semangat Joko, duda beranak 4 dan Fitri, janda tanpa anak mengucap janji nikah. Mereka datang mengikuti prosesi nikah massal.

"Kalau saya yang penting menjaga badan agar tetap sehat. Masalah virus korona itu kan penyakit yang menulari orang dalam kondisi tidak fit. Jadi kalau kita sehat ya nggak perlu takut untuk tetap bekerja cari nafkah," kata Joko yang kesehariannya bekerja sebagai pengemudi ojek online ini kepada hariankota.com..

Nikah massal dalam rangka sewindu PAMUJI (Perkumpulan Alumni SMA Muhammadiyah Siji/1) ini, semula ada rencana kirab pengantin menyusuri sebagian ruas Car Free Day (CFD) di jalan Slamet Riyadi, Solo. Namun mengingat KLB Covid-19, acara kirab terpaksa dibatalkan.

"Kemarin beberapa panitia sempat ada yang khawatir, tapi kami berkeyakinan bahwa acara ini tidak mungkin akan ditunda oleh Pemkot Solo. Karena kami sudah mengantongi izin, dan ini kan sebuah hajatan ( pernikahan) bersifat private," terang Ketua Panitia, Fajri Mahmudi.

Penyelenggaraan nikah massal disebutkan Fajri, didasari atas masih banyaknya temuan pasangan yang sudah hidup serumah tanpa ikatan perkawinan yang sah sesuai peraturan administrasi negara, baik catatan sipil maupun KUA.

"Kalaupun ada, biasanya nikah siri yang kadang menjadi dilema. Disatu sisi pemerintah mewajibkan warga menikah di kantor catatan sipil atau KUA, sementara disisi lain, berdasarkan keputusan para ulama 2004, nikah siri (Islam-Red) sepanjang memenuhi syariat agama, itu tetap sah," ujarnya.

Oleh karenanya acara nikah massal yang digelar Pamuji, menurut Fajri merupakan sebuah upaya menjembatani polemik keabsahan pernikahan siri dengan memfasilitasi secara administrasi terutama pasangan dari golongan pra sejahtera.

"Acara ini kami kemas layaknya hajat pernikahan pribadi. Kami juga siapkan round table untuk menjamu para tamu. Jadi para pasangan ini betul - betul kami mulyakan," sebut Fajri.  

Dalam kegiatan ini, seluruh pasangan sama oleh Fajri disebutkan sama sekali tidak dipungut biaya sepeserpun. Masing - masing mendapat fasilitas gratis biaya nikah, mahar, rias pengantin, souvenir, foto wedding, dan gratis menginap satu malam di Home Stay Dulurku, Pasar Kliwon, Solo.

"Alhamdulillah, karena PAMUJI itu sudah terkonsolidasi sedemikian rupa dari angkatan 1965 sampai angkatan yang terbaru, yaitu 2019, akhirnya semua dapat terlaksana dengan baik," pungkasnya.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Jumali


Share this Article :