Rekomendasi

Stok Alkohol Menipis, Perajin Etanol Kebanjiran Order

Rabu, 25 Maret 2020 : 20.22
Published by Hariankota
SUKOHARJO–Sejak beberapa hari terakhir, stok alkohol di sejumlah apotek menipis bahkan ada yang sama sekali tak menjual lantaran tak lagi mendapat pasokan.

Informasi yang didapat hariankota.com, penyebabnya lantaran masyarakat banyak yang memburu untuk membuat hand sanitizer sendiri di tengah upaya mencegah sebaran virus korona (Covid-19).

Kelangkaan ini membuat perajin etanol di Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, kebanjiran permintaan hingga kewalahan memenuhi kebutuhan masyarakat karena keterbatasan produksi.

Salah satu perajin etanol di Dukuh Sentul, Desa Bekonang, Sabariyono (77) mengaku, sejak dua minggu yang lalu ia kebanjiran pesanan alkohol dari Solo Raya dan wilayah lainnya.

"Setiap hari saya memproduksi alkohol yang prosesnya cukup lama. Butuh waktu hingga delapan hari untuk bisa menghasilkan 100 liter alkohol kadar 90 %," ungkapnya, Rabu (25/3/2020).

Menurut pria yang juga Ketua Paguyuban Perajin Etanol Bekonang ini, selain prosesnya yang lama, bahan baku yang diperlukan berupa tetes tebu dari pabrik gula sekarang ini juga sulit didapatkan.

Dengan kondisi tersebut, agar tak mengecewakan konsumen yang saat ini sangat membutuhkan, ia kemudian mensiasati penjualan dengan membatasi pembelian agar semua pemesan etanol mendapat bagian.

"Yang biasanya ada pelanggan memesan 200 liter hanya saya layani 50 liter. Ada juga pelanggan yang memesan 100 liter namun hanya saya beri 20 liter," tutur pria yang menekuni pembuatan etanol sejak masih remaja ini.

Diakui, saat ini harga alkohol mengalami kenaikan hingga 40 % seiring tingginya kebutuhan. Dari semula harga per liter Rp 30 ribu, kini melonjak hingga Rp 50 ribu.

‘’Hari ini bahan baku belum ada yang memasok. Biasanya saya taruh di kolam ini. Lihat sendiri, sekarang kering,’’ kata Sabar sambil menunjukkan tempat penampung tetes tebu yang kondisinya kosong.

Seperti diketahui, Desa Bekonang dikenal luas merupakan daerah sentra penghasil etanol dan ciu sejak jaman penjajahan Belanda. Hingga saat ini ada 55 pengrajin yang masih bertahan, namun yang fokus memproduksi etanol hanya sekira 10 perajin saja. Selebihnya memilih memproduksi ciu.

"Proses pembuatan etanol harus tiga kali penyulingan. Kalau ciu cukup dua kali saja. Makanya banyak perajin yang tidak sabar menunggu perputaran uang memilih memproduksi ciu daripada harus menunggu menjadi etanol," ujarnya.

Terpisah, Kepala Disperindagkop UKM Sukoharjo, Sutarmo mengatakan kapasitas produksi etanol kadar 90 %, rata-rata per bulan yang dihasilkan dari para perajin di Desa Bekonang, sebanyak 68.750 liter sampai 103.125 liter.

‘’Produksi etanol ini untuk memenuhi permintaan dari rumah sakit, apotek, dan pabrik rokok di wilayah Solo Raya dan sekitarnya,’’ tandasnya.


Jurnalis : Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :