Rekomendasi

Tanggapi Soal Politik Kemasan, Ini Jawaban Para Bakal Calon Walikota Tangsel

Sabtu, 14 Maret 2020 : 19.54
Published by Hariankota
TANGSEL - Para Bakal Calon Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) menanggapi soal politik kemasan dalam Dialog Publik yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) di Aula Kelurahan Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangsel.

Asisten Daerah (Asda) I Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Rahmat Salam mengatakan bahwa politik kemasan akan berujung kepada mencari keuntungan sendiri, partai dan golongannya, tanpa mengedepankan kepentingan masyarakat.

"Politik kemasan itu pasti mencari untung sendiri. Mencari keuntungan partainya, golongannya. Jadi politik kemasan tidak boleh terjadi di Kota Tangsel," kata Rahmat.

Di lokasi yang sama Direktur Keuangan PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan (PITS) Ruhamaben menyatakan bahwa politik kemasan adalah calon walikota yang hanya memiliki sesuatu yang bagus dari luarnya saja.

"Politik kemasan itu artinya orang tuh jangan lihat dari luarnya saja. Kemasan itu kan bisa dilihat citranya bagus tapi dalamnya bobrok. Saya sih melihat, jangan sampai kita terjebak dengan kemasannya. Inikan pencitraan. Jadi jangan cuma kemasannya boleh bagus atau bisa jadi biasa saja, tapi ternyata dalemnya, gagasannya, bisa dibilang tidak punya kemampuan," ujar Ruhama.

Hal serupa dikatakan Aktivis Anti Korupsi Suhendar. Suhendar menyatakan politik kemasan yakni calon yang justru memiliki power dan dukungan yang kuat, tanpa disertai gagasan-gagasan yang bagus untuk masyarakat.

"Ya contohnya lah sekarang ada yang bilang dapat dukungan dari kanan dan kiri, sudah merasa kuat karena diusung oleh partai A atau partai B, tetapi sebenarnya orang itu tidak punya gagasan sama sekali. Jadi pakai kemasan dukungan partai, padahal tidak punya ide," kata Suhendar.

Berbeda dengan yang dikatakan Lurah Cipayung Tomi Patria. Tomi mengatakan politik kemasan baik untuk dilakukan, pasalnya bagaimana bisa mengemas seseorang calon agar memiliki gagasan yang berguna bagi masyarakat.

"Dianalogikannya begini, singkong itu awalnya banyak tanahnya kan, tapi jika dibersihkan, dikemas dengan baik, singkong itu justru memiliki nilai jual yang tinggi. Kalo ngemasnya ngga baik, ya cuma habis diatas piring saja. Tapi kalau dikemas dengan baik, singkong itu bisa ada di minimarket, toko-toko madern. Nah, sekarang bagaimana cara mengemas agar sosok itu bisa berguna dan memiliki nilai jual yang tinggi," tandas Tomi.


Reporter: Arie Kristianto
Penulis: Arie Kristianto
Editor: Gunadi


Share this Article :