Rekomendasi

Tren Terus Meningkat, Sukoharjo Waspada DBD Ditengah Siaga Corona

Selasa, 10 Maret 2020 : 18.31
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Ditengah kesiapsiagaan pemerintah mencegah merebaknya virus Corona atau dikenal dengan nama Covid-19, tren kasus demam berdarah dengue (DBD) rupanya terus mengalami peningkatan selama musim penghujan. Tak terkecuali di Kabupaten Sukoharjo.

Merujuk data Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, tercatat sejak Januari hingga Maret tahun ini ada temuan 30 kasus warga yang terjangkit DBD. Dari jumlah itu belum ada yang dilaporkan meninggal dunia.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2) DKK Sukoharjo, Bejo Raharjo mengatakan, grafik kasus DBD angkanya semakin meningkat tersebar di 12 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sukoharjo.

"(Saat ini) temuan kasus DBD terbanyak di Kecamatan Bendosari," katanya saat dihubungi hariankota.com, Selasa (10/3/2020).

Lingkungan kumuh dan masih rendahnya kesadaran warga dalam menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi pemicu meningkatnya resiko penyebaran penyakit selama musim penghujan, salah satunya DBD.

"Hujan yang turun sejak beberapa waktu terakhir memicu genangan air di mana-mana. Ini dapat menjadi tempat bagi berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti. Kami menghimbau kepada seluruh warga untuk waspada," tuturnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) telah melayangkan surat edaran (SE) kepada seluruh camat untuk meningkatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan masing-masing. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi penyebaran nyamuk DBD.

"Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui rumah sakit dan puskesmas-puskesmas pembantu. Kemudian juga melakukan penyelidikan epidemiologi (mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta faktor yang terkait di tingkat populasi)," terangnya.

Tak hanya itu, DKK juga melakukan penanggulangan penyebaran fokus di daerah terjangkit, penyediaan logistik abate dan insektisida, serta pemantauan jentik oleh kader pemantau jentik di 36 desa berisiko tinggi.

"Ada juga gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik) untuk mengawasi jentik di rumah masing-masing, dan penggunaan teknologi tepat guna dengan pemasangan ovitap (perangkap telur nyamuk) dari barang bekas untuk mengurangi populasi nyamuk," imbuhnya.

Sebagai catatan, angka kasus DBD di Kota Makmur selama 2019 tercatat ada 314 kasus dengan angka kematian 10 orang. Dari jumlah itu kasus DBD masih didominasi anak-anak dengan prosentase mencapai 60%.

Jurnalis : Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :