Rekomendasi

Kekebalan Misterius Pulau Bali Menangkal Virus Corona

Minggu, 19 April 2020 : 07.00
Published by Hariankota
DENPASAR - Media asing Asia Times menurunkan sebuah tulisan menyangkut Pulau Dewata Bali.

Dalam tulisan media yang berpusat di Hongkong itu, Asia Times berjudul 'Bali's mysterious immunity to Covid-19', tayang pada 14 April 2020. Penulisnya adalah John McBeth, mengaku heran pulau Bali, pulau yang sangat misterius di Indonesia yang tak tersentuh oleh Pandemi Corona.

Bahkan angka positif COVID-19 di Bali tak lebih dari 200 kasus, tepatnya 133 per 16 April 2020, 16:05 WIB.

Berbeda dengan DKI Jakarta yang jumlah kasus positifnya mencapai 2.670 kasus. Wilayah lain di Pulau Jawa pun angkanya di atas 200 kasus.

Tidakkah Anda heran melihat angka ini? Padahal kita tahu bersama Pulau Bali, tempat yang cukup banyak didatangi maupun ditinggali warga asing.

Angka kematian akibat COVID-19 di Pulau Dewata pun hanya 2 kasus, jauh dibandingkan yang terjadi di Pulau Jawa.

Fakta lain yaitu Bali tak mengalami lonjakan kasus, rumah sakit tak meluap. Begitu pula kremasi yang tidak dilakukan secara massal atau besar-besaran. Padahal, jumlah masyarakat di Bali mencapai 4,2 juta jiwa.

Warga asing yang menetap di Bali ikut memberikan pernyataannya. Menurut Jack Daniels, Bali tak mengalami lonjakan kasus COVID-19.

"Saya tak mendengar adanya lonjakan kasus di sini. Kematian yang terjadi, 2 orang, pun salah satunya adalah warga Ingris yang sudah memiliki masalah kesehatan sebelumnya," ungkapnya.

Fakta lapangan yang diterima media asing ini antara lain, 4 krematorium yang berada di Denpasar tak menerima 'orderan' yang ramai.

Selain itu, rumah sakit swasta di Bali menerima alat tes, namun rujukan hanya dilakukan pada dua atau tiga kasus.

Lebih lanjut, menurut laporan Asia Times, jumlah wisatawan China yang datang ke Bali sempat meningkat di Januari, sekitar 3%. Padahal, di bulan itu Wuhan me-lockdown provinsinya karena wabah terus meluas. Luar biasanya lagi, Bali masih menerima wisatawan China hingga 5 Februari.

Meski begitu, Bali tetap merasakan dampaknya. Industri pariwisata di sana menurun drastis, bahkan lebih anjlok dibandingkan karena kasus bom Bali beberapa tahun silam.

Menurut Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia, terdapat 270 hotel tutup dari jumlah total 1.149 hotel secara keseluruhan. Bali Hotel Associations pun memberikan pernyataan, 170 hotel di antara yang tutup adalah hotel bintang empat dan lima.

Lantas, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah warga Bali kebal virus corona? Tidak ada yang bisa memastikan hal tersebut.

Blogger Rio Helmi yang merupakan salah seorang narasumber yang diwawancarai Asia Times pun menjelaskan tak memiliki fakta mengenai hal tersebut.

"Saya juga bingung karena itu tidak masuk akal," terangnya.

Sementara itu, hariankota.com mencoba mewawancarai salah seorang pelaku seni yang menetap di Legian, Bali, Made Arya Yudarista.

Ia punya pandangan, minimnya kasus positif COVID-19 di Bali karena adanya peraturan yang tegas, bukan hanya dari pemerintah pusat dan daerah tapi dari hukum adat dan juga pemangku agama.

Jadi, setelah pemerintah mengimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak darurat, hukum adat pun mengatur hal demikian. Peraturan ini muncul di momen rentetan upacara sebelum nyepi.

"Peraturan itu sempat menimbulkan pro dan kontra, karena berbarengan dengan rentetan sebelum upacara nyepi. Tapi, warga Bali mengiyakan demi keselamatan bersama," terangnya melalui pesan singkat, Minggu (19/4/2020).

Dengan aturan tak boleh keluar rumah, alhasil upacara melasti, pengrupukan dilakukan di rumah saja. Upacara hanya dilaksanakan pemangku dan beberapa perangkat desa.

Setelah nyepi berlalu, sambung Dista, muncul imbauan baru yang mengharuskan warga Bali untuk tidak keluar rumah satu hari lagi. "Ya, bisa dibilang semacam nyepi extend. Kita nggak boleh ke luar rumah, tapi tidak menyepi," terangnya.

Di momen 'nyepi extend' ini, ternyata 'kulkul' yang disakralkan atau disucikan di daerah tersebut berbunyi. Warga Bali percaya, ketika 'kulkul' dikumandangkan, ada bencana di sana. "Persis seperti waktu bom Bali, 'kulkul' pun berbunyi," cerita Dista.

Tidak hanya bunyi 'kulkul', pemangku di Bali pun memberitahu bahwa ada 'pawisik' atau pesan dari yang beristana di alam sana untuk menghaturkan beberapa sesajen dengan tujuan menolak bala.

Perintah itu ialah memasang sajen berupa pandan berduri, yang ditusuk bawang dan cabai. Lalu, ada kapur sirih yang dioles membentuk tanda 'plus'. 'Benda' ini dipasang di gerbang rumah.

"Selain itu, ada ritual tambahan yang disarankan pemangku agama. Ibadah ini berbeda setiap wilayahnya," tambah Dista. Ia menjelaskan, ibadah dan ritual ini dijalankan atas dasar kepercayaan.

Warga Bali pun lebih banyak yang akhirnya percaya dan menjalankan perintah tersebut. Alasannya sederhana, tidak ada salahnya melakukan itu semua demi kebaikan bersama.

Jadi, dengan dijalankannya imbauan pemerintah untuk tidak keluar rumah, sanksi dari hukum adat, serta adanya imbauan langsung dari pemangku agama, membuat warga Bali tak berani keluar rumah.

Tiga aturan ini yang kemudian mungkin membuat warga Bali banyak yang tidak keluar rumah dan ini membuat penyebaran virusnya tak semasif wilayah lain. Tapi ini persepsi saya semata, lho," paparnya.

Masih belum dapat diketahui pasti apa alasan kasus positif COVID-19 di Bali relatif kecil padahal menjadi tempat tinggal banyak warga asing.

Namun satu hal yang jelas, menjalankan imbauan dari pemerintah pun dari sumber lain demi kebaikan bersama adalah cara terbaik saat ini. Taat pada aturan tidak susah kok, itu semua tergantung pada diri masing-masing, bukan begitu?

Reporter: Jumali
Penulis: Jumali
Editor: Jumali


Share this Article :