Rekomendasi

Komisi V DPRD Banten: Jangan Ada Efisiensi Kepada Tenaga Medis yang Tangani Corona

Kamis, 02 April 2020 : 18.14
Published by Hariankota
SERANG - Pemprov Banten berencana akan juga memotong gaji tenaga medis covid-19 (corona) yang bertugas di RSUD Banten. Pemotongan ini sebagai bentuk efisiensi APBD untuk menangani virus Corona di Bumi Jawara.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Komisi V DPRD Provinsi Banten Fitron Nur Ikhsan menyatakan agar Gubernur dapat mengkaji kembali efisiensi untuk tenaga medis yang menangani corona.

"(Rencananya) Untuk tenaga medis berstatus PNS, akan ada pemotongan untuk efisiensi. Saya harap tidak (diefisiensikan) untuk mereka para PNS yang sekarang ada disini (menangani corona). Jangan sampai ada efisiensi bagi tenaga medis yang menangani corona," kata Fitron kepada wartawan, Rabu (1/4/2020) malam.

"Bukan hanya mempertaruhkan waktu dan tidak bertemu keluarga, tapi juga nyawa, karena ini (tenaga medis penanganan corona) sangat rentan. Jadi kebijakan efisiensi, pengurangan tunjangan, jangan sampai kena. Bahkan kalau bisa ditambah," katanya lagi.

Tenaga medis juga menyampaikan harapannya ke politisi Partai Golkar itu, agar vitamin, makanan berat dan makanan penunjangnya ditambah. Terutama makan dan minuman yang bervitamin, sehingga kesehatan, tenaga dan imunitas tubuh mereka selalu terjaga selama menangani pasien Corona di RSUD Banten, sebagai rumah sakit rujukan utama tingkat provinsi.

"Dalam rentang waktu cukup panjang, tiga bulan, harus dijamin makan dan minumnya. Mereka mengusulkan ada beberapa yang harus dipenuhi, terkait vitamin, kalo bisa bukan hanya tablet, tapi secara kesehatan mereka juga bisa minta vitamin C yang lebih. Kemudian berharap peralatan mandi, cuci, masih kurang," terangnya.

Dari sekira 90 tenaga medis yang beristirahat di Pendopo Lama Gubernur Banten, menurut Fitron sebagian besar tenaga medis berstatus honorer atau kontrak. Mereka berharap, jika pandemi Corona sudah berakhir, bisa diangkat status nya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) oleh pemerintah. Karena telah mengorbankan banyak hal bagi penyembuhan pasien covid-19.

"Mereka harus dikarantina, meninggalkan keluarga, karena persoalan protokoler covid, mereka tidak bisa bersentuhan, ini kan pengorbanan yang luar biasa. Terutama yang honorer, mereka berharap bisa jadi PNS," jelasnya.

Sebelumnya pelayanan miris diterima oleh tenaga medis yang tidur di atas kasur tanpa ranjang. Kasur tersebut digelar begitu saja di atas lantai tanpa alas dan jaraknya berdekatan. Bahkan satu kamar harus di isi sampai 25 orang.


Reporter: Arie Kristianto
Penulis: Arie Kristianto
Editor: Nurani


Share this Article :