Rekomendasi

Konvoi Bus Pariwisata, Protes Tak Dapat Bantuan Dampak Covid-19

Kamis, 30 April 2020 : 16.59
Published by Hariankota

SUKOHARJO - Sekira 50 lebih bus pariwisata berdatangan dari berbagai wilayah Soloraya melakukan konvoi di jalan raya dengan titik kumpul di terminal Kartasura, Sukoharjo, Kamis (30/4/2020).

Dengan alasan memanaskan mesin lantaran terlalu lama menggangur di garasi, mereka kompak melakukan konvoi berdatangan dari masing - masing garasi berkumpul jadi satu. 

Pantauan hariankota.com, dalam kesempatan ini mereka juga menyampaikan curahan isi hati berupa unjuk rasa dengan memasang seruan lewat spanduk yang ditempel di badan bus.
Diantara spanduk berbunyi: Maaf Perjalanan Anda Terganggu. Kami Hanya Manasin Mesin Muterin Roda Bersama Rombongan Bus Pariwisata Soloraya."Kami Tidak Kejam Tapi Kami Butuh Pengayoman".

Ketua Paguyuban Roda Manunggal Sukoharjo, Joko Wahyudiyanto mengungkapkan, konvoi memanaskan mesin bus secara serentak ini merupakan aksi spontanitas keinginan bersama sekaligus menyuarakan keluhan selama pandemi Covid-19.

"Dari Sukoharjo ada 30 bus yang ikut, terdiri sopir dan kru. Kami tidak menyalahkan keadaan yang sedang ada wabah korona, kami bisa menerima. Tapi kami juga harus diperhatikan. Sudah dua bulan ini kami menganggur," katanya.

Sejak pemerintah memutuskan menghentikan seluruh operasional moda transportasi umum, khususnya bus pariwisata. Tidak ada sama sekali perhatian atau bantuan. Apalagi bantuan yang disebut - sebut diberikan kepada sopir.

"Katanya sopir dan kru bus itu berjasa memberikan devisa negara melalui sektor wisata. Tapi sejak dua bulan lalu kami dihentikan beroperasi, tidak mendapat bantuan. Nasib keluarga kami bagaimana kalau tidak ada penghasilan," ujarnya.

Disisi lain, dalam situasi banyak orang mengalami kesulitan ekonomi, para pemilik bus juga tak kalah penderitaannya. Mereka masih harus memutar otak karena memiliki tanggungan angsuran bus.

"Katanya pemerintah memberi kemudahan berupa penundaan angsuran, tapi prakteknya tidak seperti itu. Kami malah dikenai (biaya) administrasi, dan uang itu nanti hangus tanpa mengurangi bunga dan beban pokoknya. Itu sangat memberatkan," ungkapnya.

Diakui Joko, para pengusaha bus pariwisata saat ini memang tidak bisa membayar angsuran pinjaman modal di bank. Tapi itu bukan karena kelalaian, atau kesengajaan. Tapi karena Covid-19 yang menjadikan bus tidak boleh beroperasi.

"Kami mendukung program pemerintah untuk memutus rantai penyebaran virus korona ini, namun tolong, pemerintah juga memperhatikan dampak ekonomi yang menimpa kami sekeluarga," pungkasnya.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi




Share this Article :