Rekomendasi

Mencemaskan, Sepekan Kasus DBD di Sukoharjo Melonjak Ditengah Pandemi Covid-19

Minggu, 12 April 2020 : 19.10
Published by Hariankota

SUKOHARJO - Memasuki pekan ke -14, jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sukoharjo mengalami lonjakan cukup tajam dari pekan sebelumnya. 

Bahkan jika dibandingkan dengan pekan yang sama pada 2019 lalu, angkanya naik hampir 6 kali lipat.

Ditengah fokus penanganan wabah virus korona (Covid-19), jumlah penderita positif digigit nyamuk Aedis Aegypti dalam sepekan ini melonjak drastis mencapai 16 kasus dari pekan sebelumnya yang hanya tercatat 1 kasus. 

Sementara tahun sebelumnya pada pekan yang sama hanya ada 3 kasus positif DBD.

Berdasarkan data dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, total keseluruhan kasus positif DBD sejak pekan pertama Januari 2020, tercatat sudah ada 61 warga yang terjangkit dan tersebar di 12 kecamatan.

"Update monitoring data hingga pekan ini, kasus DBD tertinggi di Kecamatan Bendosari dengan 13 kasus," terang Yunia dalam rilisnya kepada hariankota.com, Minggu (12/4/2020).

Kemudian disusul, Kecamatan Nguter 10 kasus; Sukoharjo Kota, dan Mojolaban 7 kasus;  Weru, Kartasura, Baki ada 4 kasus;  Tawangsari, Gatak, dan Polokarto 3 kasus;  Grogol 2 kasus, dan terakhir Bulu hanya 1 kasus.

Salah satunya di Kecamatan Kartasura, tepatnya di lingkungan RT 01/RW 01 Dukuh Widororejo, Desa Makamhaji, dari pertengahan Maret hingga awal April ini, sebanyak 4 anak harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan akibat terjangkit DBD. Mereka rata - rata usia 2 - 11 tahun.

Nafik, seorang ibu rumah tangga yang juga pengurus PKK RT setempat mengungkapkan, awalnya ada enam anak yang sakit dengan gejala mirip DBD dan sudah dilaporkan ke petugas medis Puskesmas Kartasura. Namun setelah dilakukan tes laboratorium, dua diantaranya ternyata sakit tipus.

"Dari empat kasus yang dinyatakan positif itu, dua diantaranya kasus baru. Saat ini yang masih dirawat di rumah sakit tinggal satu orang anak, tadi siang pasien yang ketiga sudah boleh pulang," terangnya.

Diakui, lingkungan tempat tinggal anak - anak tersebut memang tidak sehat, banyak genangan air akibat timbunan ban - ban bekas milik salah satu warga.

Selain itu juga masih ada rumah kondisinya kumuh, penghuninya kurang memperhatikan pentingnya sirkulasi udara yang baik.

"Rabu ( 8/4/2020) kemarin saat dilakukan fogging dari Puskesmas sudah diingatkan bahwa lingkungan tempat anak - anak yang terkena DBD itu tidak sehat. Tapi penghuninya kadang kurang peduli, padahal kami juga sudah sering mengingatkan," pungkasnya.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi


Share this Article :