Rekomendasi

Demi Tradisi, Pengrajin Kulit Ketupat Bertahan Ditengah Pandemi

Jumat, 29 Mei 2020 : 19.48
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Dalam tradisi Lebaran di Indonesia, rasanya belum lengkap jika tanpa sajian hidangan ketupat. Masyarakat Jawa menandai H+7 Idulfitri dengan sebutan "Bakdo Kupat". Ada sajian masakan opor ayam, sayur sambal goreng, dan ketupat.

Dalam filosofi masyarakat Jawa, Bakdo Kupat atau Lebaran Ketupat memiliki makna persatuan sebagaimana janur (daun-Red) kelapa yang dianyam menjadi selongsong atau kulit ketupat. Ikatannya kokoh dan membentuk ruang yang dapat diisi dengan beras.

Pada tahun ini kondisinya sangat jauh berbeda. Ditengah mewabahnya korona (Covid-19), serta beberapa daerah masih diterapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Penjualan kulit ketupat turun drastis, sepi peminat.

"Berkurang sangat banyak dibandingkan dengan tahun lalu. Hampir separo lebih," kata Darman (70) pengrajin sekaligus penjual kulit ketupat asal Baki, Sukoharjo saat ditemui hariankota.com di depan Pasar Telukan, Grogol, Jum'at (29/5/2020).

Pria yang mengaku sudah menekuni dunia menganyam janur kelapa menjadi kulit ketupat sejak lama ini mengatakan, meski ada wabah korona, pembeli kulit ketupat buatannya masih ada. Hanya jumlahnya tak seperti tahun sebelumnya.

Tahun lalu Darman masih merasakan mendapat keuntungan besar lantaran banyak menerima pesanan kulit ketupat dari pengusaha catering maupun masyarakat yang hendak menggelar acara halal bi halal keluarga.

"Saat ini sangat sulit. Apalagi sekarang mencari bahan baku janurnya juga susah. Kalaupun ada harganya mahal, satu tangkai harganya Rp 40 ribu," tutur Darman yang berjualan berdua bersama sang istri.

Ia mengatakan, meskipun pembeli kulit ketupat sedikit, namun itu tak lantas membuatnya berkecil hati. Baginya, membuat kulit ketupat tidak hanya untuk usaha dirinya sendiri, tapi juga membantu masyarakat yang masih ingin menjaga tradisi.

"Karena sebagian besar kami memang perlu usaha dan sebagiannya lagi kami tidak ingin menghilangkan tradisi. Ini juga daripada saya mengganggur dirumah. Kalau tidak ada yang jualan (kulit ketupat), lalu siapa yang akan menjaga tradisi kita," sebut Darman.

Menurutnya, kulit ketupat hasil anyamannya, ia jual per ikat berisi 10 selongsong sebesar Rp 10 ribu. Jika tahun sebelumnya bisa habis 10 tangkai janur, untuk sekarang 5 tangkai saja belum tentu habis.

"Hari ini saja, dari pagi sampai siang masih banyak tumpukan yang belum laku. Saya biasanya hanya berjualan selama dua hari saja, hari ini dan besok. Bakdo kupatnya kan besok," ujarnya.

Meski berjualan di depan pasar, Darman tetap menerapkan social distancing dengan para pelanggannya. Ia menuruti aturan pemerintah sehingga dirinya dan para pembeli tetap aman saat berbelanja.

"Beda jauh dari hari lebaran biasa dengan pandemi begini. Penghasilan berbeda karena barangnya (kulit Ketupat) yang dibuat sedikit, sudah begitu belum tentu laku semua," pungkas Darman.


Jurnalis : Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :