Rekomendasi

Pesanan Menurun, Perajin Batik di Sragen Beralih ke Pembuatan Masker

Senin, 04 Mei 2020 : 19.53
Published by Hariankota
SRAGEN - Agar dapat bertahan dan tetap menghasilkan, sejumlah perajin batik yang berada di Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, terpaksa harus banting setir dengan  memproduksi masker.

Seperti yang dilakukan oleh Perajin Batik Nugroho, milik Sukisno, warga  Desa Pilang, Kecamatan Masaran ini. Sudah lebih satu bulan ini, Sukisno ini, mengalihkan usahanya dari perajin batik. 

Sukisno mengaku, hal ini terpaksa dilakukan karena pesanan batik hampir tidak ada. Meski demikian, Sukisno masih melayani pesanan dengan persediaan barang yang tersisa.

Menurut Sukisno, sebelum terjadi Pandemik Corona (Covid-19), dia memiliki sebanyak 11 orang karyawan. Karena rasa kasihan dan tidak sampai hati merumahkan karyawan yang telah membesarkan usahanya tersebut, Sukisno masih berusaha mempekerjakan mereka dengan memproduksi masker. Dalam satu hari, jelasnya, masker yang diproduksi mencapai 2000 sampai 3000 lembar masker batik yang dijual dengan harga Rp2000  hingga Rp3000 per lembar.

"Sudah sebulan ini saya mengalihkan usaha ke pembuatan masker. Ini kami lakukan karena usaha batik sepi dan tidak ada pesananan. Selama ini, pesanan biasanya datang dari para pedagang Pasar Klewer. Tapi karena wabah Covid-19, semua usaha tutup,” ujarnya, Senin (04/05/2020).

Disisi lain, pandemik Covid-19 ini berdampak sangat luas terhadapsektorusaha kecil, terutama perajin batik di Sragen. Sugiyamto, pemilik usaha "Dewa Batik"  yang berada di Dukuh Jantran, RT 25/5, Desa Pilang, Masaran, Sragen mengatakan di tiga desa sentra batik yakni Pilang, Kliwonan Masaran dan Pungsari Plupuh, total ada sekitar 400 perajin batik.

 Menurutnya, ada sekitar  1.000 orang pembatik di tiga desa di sentra batik ini   terpaksa dirumahkan karena produksi sudah berhenti, karena tidak ada pesanan.

"Semua sudah berhenti produksi sekitar tiga bulan sampai dua bulan terakhir. Pekerjanya mayoritas warga sekitar. Sebenarnya kasihan juga, tapi ya bagaimana lagi. Ini masa yang paling sulit bagi perajin,” ujarnya.

Reporter: Iwan Iswanda
Penulis: Iwan Iswanda
Editor: Rahayuwati



Share this Article :