Rekomendasi

Selamat Jalan Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart

Selasa, 05 Mei 2020 : 16.35
Published by Hariankota
Foto Istimewa

SOLO - Didi Kempot penyanyi sekaligus pencipta lagu yang kondang dengan julukan The Godfather of Broken Heart (Bapak Patah Hati) menghembuskan nafas terakhir di usia 54 Tahun di RS Kasih Ibu Solo, Selasa (5/5/2020) pagi.

Kepergiannya yang begitu mendadak ditengah pandemi Covid-19 telah membuat jutaan penggemarnya seperti tak percaya. Ungkapan kesedihan dan bela sungkawa silih berganti membanjiri berbagai lini masa media sosial (medsos).

Sejumlah penggemar ada juga yang ikut datang ke RS Kasih Ibu sekedar ingin menyaksikan iring-iringan jenazah menuju tempat peristirahatannya yang terakhir di pemakaman Desa Majasem, Kendal, Ngawi, Jatim pada siang harinya.

Berikut hariankota.com merangkum dari berbagai sumber, sekelumit perjalanan karir almarhum Didi Kempot yang bernama asli Dionisius Prasetyo kelahiran 31 Desember 1966 di Kota Solo.

Diawali ketika ia berkeinginan menjadi seorang seniman musik yang terkenal dan mempunyai nama besar. Ia meminjam sebuah gitar milik temannya sewaktu SMA untuk digunakannya belajar musik.

Kuatnya dorongan ingin punya gitar sendiri, Didi nekat menjual sepeda onthel model 'jengki" hadiah dari bapaknya (almarhum pelawak Ranto Edi Gudel) sewaktu ulang tahun, untuk membeli gitar.

Berangkatlah Didi ke Ibukota Jakarta untuk berjuang menjadi seorang seniman dengan bermodal nekat dan tekat yang membara, serta sebuah gitar yang dibeli dari hasil menjual sepeda.

Hanya saja ketika di Jakarta, hidup tak semudah yang dibayangkan. Didi akhirnya mengamen bersama teman-temannya sesama pengamen jalanan untuk memperolah uang dan bekal hidup.

Bersama teman-temannya sesama pengamen jalanan ia mendirikan grup musik akustik yang diberi nama "Kempot Band" atau kependekan dari "Kelompok Penyanyi Trotoar."

Sampai akhirnya sang kakak, Mamiek Prakoso, seorang pelawak yang dikenal dengan nama Mamiek Podang, tahu bahwa adiknya jadi pengamen. Sesuatu hal yang awalnya tidak ia sangka sebelumnya.

Hingga pada suatu waktu, bakat menyanyi yang dimiliki Didi diketahui oleh seorang produser bernama Pompi (mantan personel No Koes). Dan Tahun 1994, ia diajak rekaman album kompilasi bersama Batara Group dari Suriname.

Sejak itulah titik kecerahan mulai sedikit terbuka hingga setelah sukses bersama Batara Group, Didi langsung terkenal dan memutuskan untuk bersolo karir.

Diawal bersolo karir bersama Dasa Studio, Didi pertama kalinya melantunkan lagu bergenre dangdut. Dalam solo karir perdana yang dirilis tahun 1999 itu, Didi membawakan lagu "Stasiun Balapan” sesuai dengan judul albumnya.

Album itu ternyata mendulang sukses, meledak di pasaran dan mendapat respon yang baik. Kontrak baru pun sudah disiapkan oleh Dasa Studio. Namun, IMC Record sudah lebih dulu menawari Didi untuk rekaman album kedua.

Dan album kedua tersebut diberi judul “Plong” yang rilis tahun 2000. Hingga, awal pertengahan tahun 2001 ia merekam album ketiganya yang berjudul “Ketaman Asmoro” yang meledak pula seperti album-album sebelumnya.

Sukses Didi mencapai puncaknya saat kalangan milenial sejak dua tahun terakhir mulai menyukai lagu -lagunya yang dinilai mewakili suara orang yang sedang dilanda sakit hati. Fans kalangan milenial ini dikenal dengan julukan "Sobat Ambyar"

Impian seorang Didi untuk menjadi seniman besar telah terwujud sebelum ia tutup usia. Diliput televisi hingga tiap konsernya tak pernah sepi dari serbuan penonton golongan usia muda sudah menjadi hal biasa. Selamat Jalan Didi kempot.


Jurnalis : SaptoEditor : Mahardika

Share this Article :