Rekomendasi

Kasus Remaja Tewas Saat Latihan Silat, PSHT Sukoharjo : Itu Bukan Siswa Kami

Sabtu, 11 Juli 2020 : 13.41
Published by Hariankota
SUKOHARJO- Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Sukoharjo mengklarifikasi pemberitaan seorang remaja berinisial FAR (15) warga Desa Trangsan, Gatak, Sukoharjo saat latihan silat. Ditegaskan, bahwa korban bukan merupakan siswa PSHT.

"Kami sangat keberatan kalau sesuatu hal menyangkut nama dari organisasi yang kami pimpin. Yang jelas mereka dari organisasi (silat) baru," kata Choirul Rus Suparjo anggota Dewan PSHT Sukoharjo kepada hariankota.com saat jumpa pers, Sabtu (11/7/2020).

Keterangan Choirul ini sekaligus untuk menepis bahwa di Sukoharjo tidak ada dualisme kepengurusan PSHT. Namun diakui ada organisasi perguruan silat baru pecahan PSHT dan diluar dalam setiap kegiatan selalu memakai nama PSHT.

"Kepengurusan PSHT tetap satu yang ditetapkan Parapatan Luhur(parluh/semacam musyawarah nasional) 16, pada tahun 2016. Kebetulan saya hadir disana, dan duduk di Komisi A yang mencetuskan pasal harkat martabat," sebutnya.

Struktur organisasi PSHT, kata Choirul dalam sejarahnya belum pernah melakukan tata cara pemilihan pemimpin mengunakan sistem seperti pemilu. Secara sistem, pemimpin PSHT dipilih berdasarkan Imamah atau Imam, yaitu majelis luhur yang bersifat mutlak.

"Tidak hanya itu, di organisasi PSHT ini juga dilarang berpolitik praktis, tidak boleh. Artinya kalau ada yang masuk menjadi anggota parpol itu sifatnya pribadi dan merupakan hak seseorang, tapi bukan atas nama PSHT," tegasnya.

Organisasi perguruan silat pecahan PSHT yang di sebutkan Choirul, berdiri berdasarkan Parluh 17. Secara organisasi Parluh 17 juga mengakui keabsahan PSHT Parluh 16. Mereka tetap mendukung keabsahan PSHT Parluh 16.

"Jadi kami minta dengan sangat, untuk berita yang telah tersebar di masyarakat supaya diluruskan. Bahwa kejadian di Gatak itu bukan siswa PSHT. Di PSHT tidak pernah mengajarkan penganiyaan seperti itu," tandasnya.

Seperti diketahui, FAR tewas dengan mengalami sejumlah luka lebam di kepala saat berlatih silat di halaman sebuah sekolah dasar di Desa Trangsan bersama puluhan teman - temannya pada Sabtu (4/7/2020) lalu sekira pukul 20.00 WIB.

Hingga kini penyebab tewasnya FAR masih dalam penyelidikan polisi dengan melibatkan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Hal ini mengingat dari 9 orang saksi yang diminta keterangan, 7 diantaranya masih dibawah umur.


Jurnalis : Sapto Nugroho
Editor : Mahardika

Share this Article :