Rekomendasi

Krisis Keuangan, PT Tyfountex Akhirnya Persilahkan Karyawan Mundur

Kamis, 02 Juli 2020 : 20.33
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Akibat dihantam krisis keuangan berkepanjangan, pabrik tekstil dan garmen PT Tyfountex Indonesia terancam gulung tikar dengan diawali melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan bagian produksi tekstil.

Tak berselang lama seiring wabah Covid-19, giliran karyawan dibagian garmen mulai terkena imbasnya, beberapa dari mereka dirumahkan tanpa kejelasan kapan akan dipekerjakan kembali.

Dari persoalan itu, unjuk rasa karyawan pabrik yang berlokasi di jalan Slamet Riyadi, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo ini tak dapat dihindari. Baik yang di PHK maupun yang dirumahkan ramai - ramai menuntut hak pembayaran pesangon dan gaji.

Setelah berulangkali digelar pertemuan Tripratit melibatkan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo, didapat solusi untuk menghindari menumpuknya persoalan bagi karyawan yang dirumahkan.

PT Tyfountex mempersilahkan bagi karyawan yang belum terkena PHK untuk mengajukan pengunduran diri dengan dijanjikan mendapat kompensasi berupa tali asih sebesar 1x gaji disertai surat keterangan pengantar syarat mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan.

Untuk memudahkan administrasi, manajemen pabrik membuka posko pelayanan informasi karyawan yang hendak mengundurkan diri hingga batas waktu 24 Juli mendatang.

“Kondisi pabrik tekstil ini telah merugi sejak 10 tahun lalu. Imbasnya, banyak karyawan yang terkena PHK dan dirumahkan secara bertahap,” kata Kepala Disperinaker Sukoharjo, Bahtiyar Zunan, kepada hariankota.com, Kamis (2/7/2020).

Penerbitan surat pengantar dari manajemen pabrik untuk pencairan dana BPJS Ketenagakerjaan, nantinya masih harus sepengetahuan Disperinaker Sukoharjo sebelum dibawa ke bank yang ditunjuk.

"Untuk nilainya bervariasi tergantung masa kerja masing - masing karyawan. Besarnya sekira Rp 20 juta- Rp 30 juta/ per orang," sebut Zunan.

Dari sekira 3.000 ribu lebih karyawan yang dirumahkan, hingga kini baru tercatat sebanyak 250 karyawan yang datang ke posko yang berada didalam pabrik untuk mengajukan surat pengunduran diri.

"Hingga saat ini manajemen PT Tyfountex terpaksa telah melakukan PHK karyawan hingga 1.100 orang pada 2019 lalu. Untuk persoalan tuntutan pesangon diselesaikan lewat jalur pengadilan," ujarnya.

Opsi penawaran mengundurkan diri terpaksa ditempuh sebagai jalan tengah agar karyawan yang dirumahkan mendapat dana dari BPJS Ketenagakerjaan. Namun jika ngotot bertahan, maka bisa jadi tak mendapat apapun mengingat kondisi keuangan pabrik terus merugi.

Sementara, Kepala Bagian (Kabag) Personalia PT Tyfountex Indonesia, Ima Yulia Kurnia Asmara, menyatakan dengan bantuan Disperinaker Sukoharjo bagi karyawan yang mengundurkan diri, saat pencairan dana BPJS Ketenagakerjaan bisa dipercepat.

"Ini merupakan upaya kami agar para mantan karyawan bisa segera mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan di tengah pandemi Covid-19," ucapnya.

Biasanya, pencairan dana BPJS Ketenagakerjaan butuh waktu sekira satu bulan setelah pengajuan. Namun khusus untuk mantan karywan Tyfountex, bisa dipercepat kurang dari sepekan.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi




Share this Article :