Rekomendasi

Launching Lagu Kartasura Greget, Wujud Cinta Seorang Hakim Kepada Tanah Kelahiran

Sabtu, 04 Juli 2020 : 16.54
Published by Hariankota
SUKOHARJO -  Sebagai abdi negara yang bertugas dibidang penegakan hukum, darah seni rupanya mengalir dalam jiwa Djuyamto, salah satu hakim sekaligus pejabat Humas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara. Namanya dikenal luas publik ketika memimpin persidangan kasus penyiraman air keras Novel Salim Baswedan.

Tertantang ikut mengangkat nama tanah kelahiran, yakni Kartasura, Sukoharjo. Pria kelahiran 1967 ini merefleksikan pemikiran dan idenya tentang Kartasura menjadi sebuah lagu berbahasa Jawa dengan genre campursari. Tak hanya itu, ia sekaligus sebagai pelantunnya. 

Lagu yang disebut diciptakan dalam waktu singkat ini, dimaksudkan sebagai bagian dari program pemberdayaan seni dan budaya daerah dengan diberi judul "Kartasura Greget".

Banyak seniman muda dan budayawan  berdiri dibelakang mendorong Djuyamto untuk menuangkan gagasannya menjadi sebuah lirik lagu, dan akhirnya terwujud. Lagu dilaunching dengan undangan terbatas sesuai protokol kesehatan ditengah pendemi Covid-19, serta disiarkan langsung melalui kanal live streaming.

"Ini adalah (wujud) kecintaan saya kepada tanah kelahiran. Kebetulan Kartasura itu merupakan sebuah sejarah, bukan hanya sekedar sebuah tempat atau tlatah (bagian dari sebuah wilayah-Red)," kata Djuyamto kepada hariankota.com disela launching dan diskusi tentang Kartasura, Sabtu (4/7/2020).

Dituturkan, sejak awal didirikan, para leluhur berniat menjadikan Kartasura sebagai sebuah tempat untuk kebaikan bersama. Namun sayangnya seiring perjalanan sejarah, yang muncul adalah intrik dan konflik berdarah hingga membuat Kartasura yang dahulu pernah menjadi sebuah kerajaan besar porak -poranda, dan runtuh.

"Ternyata setelah dipelajari, sebab keruntuhan Kartasura itu karena munculnya sifat - sifat yang bertolak belakang dengan niat baik para pendirinya. Muncul pengkhianatan, intrik, perebutan kekuasan hingga perang saudara," ujarnya.

Oleh karenanya, dengan lagu yang ia ciptakan ini, Djuyamto ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda atau kalangan milenial bahwa untuk mempelajari sejarah Kartasura,  bisa dilakukan melalui sebuah lagu atau melalui semangat yang tertuang dalam syairnya.

"Dulu, yang membuat Kartasura baik itu pada episode awal dari niat baik para pendirinya, sedangkan yang membuat Kartasura runtuh adalah episode pengkhianatan hingga perang saudara. Nah, di episode pengkhianatan ini jangan kita wariskan kepada generasi penerus. Tapi episode yang baik yang kita wariskan melalui pesan dalam lagu ini," imbuhnya.

Menanggapi lagu ciptaan Djuyamto, budayawan pencipta Kidung Wahyu Kalaseba, Sri Narendra yang turut dihadirkan sebagai pembicara dalam diskusi mengatakan, syair dalam lagu Kartasura Greget sangat menggugah semangat generasi milenial untuk kembali mempelajari sejarah.

"Yang paling inti adalah, mempersatukan segala kepentingan tanpa ada batasan dengan kalangan apapun, dengan keyakinan apapun. Lagu ini sangat relevan dengan kondisi saat ini, sangat menghibur, dan mencerahkan di tengah situasi pandemi Covid-19," pungkasnya.


Jurnalis : SaptoEditor : Mahardika

Share this Article :