Rekomendasi

PUGUH Gagal Dapat Rekom PDIP, Relawan GARUDA Belum Tentukan Sikap

Minggu, 19 Juli 2020 : 17.25
Published by Hariankota
SOLO -  Setelah melalui perjalanan panjang penuh dinamika, calon pasangan Walikota dan Wakil Walikota Solo yang dijagokan DPC PDIP Solo, Achmad Purnomo - Teguh Prakosa (PUGUH) gagal mendapat rekomendasi dari DPP PDIP.

Partai pimpinan Megawati Soekarno Putri ini akhirnya memutuskan rekomendasi jatuh kepada Gibran Rakabuming Raka - Teguh Prakosa sebagai bakal pasangan calon kepala daerah Kota Solo dalam Pilkada 2020 Desember mendatang.

Rekomendasi ini sesuai dengan prediksi berbagai pihak, terlepas dari penilaian kemampuan kepemimpinan figur sang calon. Sebagai anak Presiden, tidak mengejutkan jika Gibran dengan mudah mendapat rekomendasi sebagai calon walikota.

Mensikapi keputusan itu, kumpulan elemen relawan pendukung PUGUH yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Untuk  Daerah Kota Surakarta (GARUDA) menyatakan tetap berkomitmen dengan tujuan awal, yakni mencari figur pemimpin yang bisa menjadi pengayom masyarakat Solo, dimana figur itu sebelumnya telah disepakati bersama dengan kebulatan tekad melalui deklarasi dukungan kepada PUGUH.

"Kami belum menentukan sikap kemana akan berlabuh, Apakah akan tetap bersama dengan mengalihkan dukungan ke Gibran - Teguh, atau mengambil sikap lain," kata BRM Kusumo Putro inisiator GARUDA kepada hariankota.com saat jumpa pers, Minggu (19/7/2020).

Dengan gagalnya PUGUH maka GARUDA ditegaskan Kusumo, tidak otomatis buba. Komunikasi dan konsolidasi untuk menentukan sikap selanjutnya terus dilakukan antar elemen. Meski calon wakil Gibran adalah Teguh yang semula merupakan bakal calon wakil Purnomo, namun itu bukan berarti menjadikan GARUDA otomatis berlabuh mendukung Gibran -Teguh.

"Perlu kami tegaskan, GARUDA bukan kumpulan elemen masyarakat yang berafiliasi kepada parpol tertentu. Kami adalah kumpulan elemen yang memilki kerinduan yang sama, aspirasi yang sama terkait Kota Solo agar dipimpin oleh seorang figur yang bisa mengayomi seluruh lapisan masyarakat," tutur Kusumo.

Menurutnya, saat ini Solo butuh figur seorang pemimpin yang memiliki sifat kebapakan, yang bisa memberi kesejukan dan menentramkan warganya. Figur yang kuat dan mandiri bukan figur terkenal karena hasil polesan media dan survey yang belum tentu kredibel.

"Dengan kondisi saat ini, kami minta maaf kepada masyarakat, khususnya yang tergabung dalam GARUDA, karena kami belum bisa memenuhi harapan untuk menghantarkan PUGUH sebagai pasangan calon pemimpin Kota Solo di masa depan," ujarnya.

Mengingat saat ini berhembus kotak kosong bakal menjadi lawan Gibran - Teguh karena satu- satunya lawan yang akan  dihadapi dari calon independen hingga sekarang belum memenuhi syarat, maka Kusumo pun menyatakan hal itu sangat mungkin terjadi.

"Pembicaraan itu dari mulut ke mulut terus dibisikkan, bahkan di media sosial sudah mulai muncul ajakan untuk memenangkan kotak kosong. Ini adalah sebuah militansi perlawanan luar biasa. Jika tak segera disikapi dengan bijaksana, maka tidak mustahil kotak kosong mampu menumbangkan dominasi parpol dan keangkuhan penguasa," tegasnya..

Meskipun begitu, Kusumo juga tak menampik, jika ada pendapat berbeda. Pendapat pesimis dengan alasannya beragam. Karakter warga Solo beda dengan warga daerah lain. Solo basis PDIP. Oligarki sudah menguat. Nepotisme menebal. Juga faktor KPU dan pemihakan aparatur.

"Untuk itu kami mengingatkan kepada masyarakat Solo agar cerdas mensikapi dinamika politik sekarang ini. Jangan sampai kehilangan akal sehat. Mungkin  GARUDA bukan pendukung militan PUGUH . Meski saat ini tak ada gejolak yang nampak diumbar.  Namun pelan - pelan akumulasi kekecewaan masyarakat ini bisa menjadi energi dahsyat dalam perlawanan diam-diam," pungkasnya.




Jurnalis : Sapto NugrohoEditor : Mahardika

Share this Article :