Rekomendasi

Salah Kaprah Prosedur Rapid Test Covid-19 di Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2020 : 20.14
Published by Hariankota
SURABAYA – Ada pemahaman salah kaprah atau kesalahan umum di masyarakat yang diungkapkan Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) dr. Windhu Purnomo, terkait rapid test yang menjadi deteksi seseorang terbebas dari Covid-19.

“Salah kaprah, rapid tes tidak apa – apa, tapi sesuai prosedur, kalau seseorang d rapid test dia non-reaktif tidak boleh langsung dikatakan dia dapat bebas Covid dan bisa bepergian,” tegas Windhu pada Minggu (19/7/2020)

Kekeliruan itu disebut Windhu hanya terjadi pada Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang menerapkan pada kereta api dan pesawat terbang, namun juga pada peserta tes Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Surabaya.

“Kekeliruan yang masif dan itu dilakukan oleh Kementerian Perhubungan, kemudian di Surabaya pada peserta tes UTBK, kan kasihan, itu gak benar, yang seperti itu membuat penularan terus terjadi,” ucapnya.

Menurut pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair ini perlu ada tes rapid lanjutan dalam rentang 7 – 10 hari kemudian, setelah di rapid test pertama dinyatakan non-reaktif.

“Kalau non-reaktif diulang 7 hari sampai 10 hari berikutnya, kemudian kalau reaktif dilanjutkan swab test. Lha ini naik kereta api, pesawat pakai rapid test, hari rapid test non-reaktif dikasih surat, besoknya bepergian, itu prosedurnya salah,” terangnya.

Hal ini yang membuat kendaraan umum seperti kereta api dan pesawat riskan menjadi tempat penularan, meskipun telah diberlakukan protokol kesehatan.

“Karena bisa saja dia antibodinya belum terbentuk padahal dia sudah positif, nanti dia naik pesawat orang se-pesawat bisa tertular, demikian kalau naik kereta, sama saja, satu gerbong bisa tertular,” tuturnya.

Dirinya menambahkan orang yang terjangkit corona, antibodinya baru muncul 7 hari kemudian, dari sanalah bisa diketahui apakah di tubuhnya terdeteksi virus atau tidak, sebagaimana acuan dari rapid test.

“Kalau dia mau pakai rapid test mau bepergian harus minimal 10 hari sebelumnya sudah rapid test, kan begitu, jadi itu yang penting prosedur harus benar, ya tidak boleh sekali rapid test non-reaktif terus dapat surat, itu tidak benar,” bebernya.

“Kalau hari ini tertular antibodi baru muncul 7 hari kemudian, jadi bukan kemudian besok sudah keluar, kalau sekarang tertular positif, besok di rapid test belum kelihatan karena antibodinya belum muncul. Munculnya baru 7 hari kemudian, kalau non-reaktif harus diulang 7 – 10 hari kemudian,” pungkasnya.

Reporter: Miadaada
Penulis: Miadaada
Editor: Jumali



Share this Article :