Rekomendasi

Gubernur Minta Bali Bebas Tengkulak Agar Petani Tidak Rugi

Kamis, 20 Agustus 2020 : 22.42
Published by Hariankota
JEMBRANA - Gubernur Wayan Koster menilai Bali tegaska  meski pembangunan di sektor  pariwisata terus digenjot, namun jangan sampai meninggalkan unsur utama perekonomian Bali yang terkenal akan budaya agraris (pertanian)

Sementara sektor pertanian telah membuktikan diri sebagai salah satu sektor unggulan di pulau Bali. Bahkan tidak terpengaruh saat Pariwisata Bali yang melemah karena wisatawan menurun  akibat  peristiwa Bom Bali, dan pandemi Covid-19 melanda Bali dan seluruh belahan dunia lainnya.

"Dengan peristiwa itu, kita sudah seyogyanya memperhatikan pertanian dari hulu sampai hilir," ujar Gubernur  Koster, Kamis (20/8).

Gubernur Koster juga sebut sektor  pertanian harus dibangun secara nyata dari hulu sampai hilir, karena ia melihat belakangan ini dunia pertanian Bali sangat tertinggal.

"Sangat tertinggal dunia pertanian kita, belum lagi ada petani kita yang ngambek, karena tidak diberikan kepastian harga. Petani kita sudah capek-capek mencangkul, memberikan pupuk, merawat hasil pertaniannya, dan memanen, namun tidak laku hasil panennya," beber Gubernur Wayan Koster

Padahal, budaya agraris itu telah melahirkan organisasi kemasyarakatan Subak yang khusus mengatur sistem pengairan sawah (irigasi, red) dan terbukti mengharmoniskan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia sesama manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya hingga menjadi daya tarik pariwisata dunia.

Untuk itu Gunernur mengajak semua Bupati dan Walikota se-Bali agar memperhatikan nasib petani dengan memberikan kepastian harga dan menyediakan pasarnya.

"Caranya kita tangani lebih serius dan lebih terarah, hasil produksi gabah yang sebelumnya diambil oleh tengkulak, harus dikendalikan sekarang," tegasnya.



Jurnalis : Made
Editor : Mahardika

Share this Article :