Rekomendasi

Inspiratif, Usia Tak Halangi Mbah Harjo Bekerja Kumpulkan Bunga Kamboja

Senin, 10 Agustus 2020 : 18.41
Published by Hariankota
SUKOHARJO - Usia Harjosuwito sudah hampir 90 Tahun pada akhir Desember mendatang. Tapi di usia ini, ia masih bersemangat tiap hari bekerja mencari bunga kamboja yang berguguran di TPU (Tempat Pemakaman Umum ) Pracimaloyo, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Bunga yang identik dengan dunia klenik itu telah menjadi ladang hidup bagi perempuan yang akrab dengan panggilan Mbah Harjo ini. Ia mengaku telah menggeluti pekerjaan sebagai pencari bunga kamboja sejak 20 tahun silam.

Disaat banyak orang orang khawatir terpapar Covid-19, Mbah Harjo tetap semangat dengan keterbatasan fisik, harus berjalan menggunakan bantuan tongkat kayu. Tak lupa, ia mengenakan caping, atau topi dari anyaman bambu yang biasa dipakai petani ke sawah untuk melindungi kepala dari terpaan panas matahari,

Satu persatu bunga yang berguguran, ia masukkan kedalam kantong plastik untuk selanjutnya dijemur hingga kering sebelum dijual kepada pengepul yang rutin mendatanginya. Bunga kamboja kering laku dijual sebagai campuran bahan obat nyamuk bakar.

Ditemui hariankota.com, nenek 15 cucu, 10 buyut, 1 canggah yang mengaku rajin minum jamu ini, memilih hidup mandiri di rumah bambu kecil di atas lahan kas Desa Makamhaji dengan sistem sewa. Ia mengatakan, tak ingin di sisa hidupnya merepotkan anak - anak, apalagi orang lain.

"Anak saya ada lima, tiga perempuan, dua laki  - laki. Tapi yang laki - laki sudah meninggal dunia semua. Mereka tidak tinggal disini. Sedangkan suami saya juga sudah lama meninggal," tutur Mbah Harjo saat ditemui, Senin (10/8/2020).

Selain untuk kebutuhan hidup sehari-hari, hasil penjualan bunga kamboja kering juga dipakai membayar bayar sewa rumah. Bahkan terkadang disisihkan sebagian untuk cucunya yang tinggal diluar daerah bersama orang tua masing - masing kalau tiba - tiba datang menjenguk.

"Ini setelah saya jemur kering sekarang dihargai perkilonya Rp 9 ribu. Dulu perkilo hanya Rp 2 ribu. Kalau dulu (sebelum Covid-19) seminggu sekali pengepulnya datang mengambil, sekarang kadang dua minggu baru datang," tutur Harjo yang bisa mengumpulkan 20 kilo dalam dua minggu.

Bunga kamboja (Plumeria acuminata) di Indonesia banyak ditemui di pekuburan. Bunga yang indah, awet, dan harum ini punya banyak manfaat, antara lain sebagai pengusir nyamuk karena kandungan minyak atsiri dan senyawa geraniol didalamnya.

Bunga berwarna putih dan ada pula yang berwarna kuning ini juga mengandung sitronelol dan linalol yang memberi efek relaksasi dan mengurangi stres. Hanya saja, ketersediaan bunga kamboja yang melimpah dan mudah tumbuh disegala medan ini belum banyak dimanfaatkan.

Namun seiring perkembangan ditengah kondisi perekonomian sulit seperti sekarang, aktivitas mengumpulkan bunga kamboja yang jatuh ketanah di TPU Pracimaloyo dengan luas sekira 17 hektar telah menjadi pekerjaan sampingan warga sekitar, khususnya ibu - ibu.

Disamping menjual jasa sebagai pembersih makam saat ramai musim ziarah, Mbah Harjo dan sejumlah ibu - ibu yang tinggal di sekitar makam tersebut juga mengumpulkan bunga kamboja. Dari aktivitas ini, mereka memiliki alternatif tambahan penghasilan.

Kepala Desa Makamhaji, Kartasura, Agus Purwanto mengatakan, warga yang mengumpulkan bunga kamboja sebenarnya sudah ada cukup lama. Namun sekarang ditengah pandemi korona, bisa jadi mulai banyak yang melakukan untuk mencari tambahan penghasilan.

"Bunga kamboja kering itu, informasinya setelah diambil pengepul akan dikirim ke Bali untuk bahan obat nyamuk bakar. Ini kan pekerjaan halal, lagipula hasilnya lumayan untuk tambahan kebutuhan hidup sehari - hari," pungkasnya. 


Jurnalis : Sapto NugrohoEditor : Mahardika

Share this Article :