Rekomendasi

Prihatin Kondisi Kota Solo, Sejumlah Elemen Turun Kejalan Gelar Aksi Damai

Minggu, 30 Agustus 2020 : 19.21
Published by Hariankota
SUKOHARJO -  Aksi unjuk massa dengan kemasan pawai budaya digelar seribuan orang mengatasnamakan Barisan Solidaritas Masyarakat Surakarta Untuk Indonesia Damai (Bima Sakti). Mereka melakukan longmarch dari Ngarsopuro menuju bundaran Gladak jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (30/8/2020) sore.



Aksi damai yang disebut diikuti  sekira 78 elemen ini bertujuan mengajak warga Solo bersatu menentang segala bentuk kegiatan pengerahan massa yang berpotensi memicu konflik antar masyarakat ditengah upaya mencegah meluasnya wabah pandemi Covid-19 di Kota Solo.



Koordinator aksi damai, BRM Kusumo Putro kepada awak media mengatakan, elemen yang bergabung dalam aksi diantaranya adalah masyarakat kecil seperti PKL,  pengemudi becak, pedagang pasar, ojek online, kelompok marginal. mahasiswa, pelajar, ormas, paguyuban, budayawan dan seniman.



"Aksi damai ini merupakan bentuk keprihatinan kami sebagai warga Solo melihat kondisi yang terjadi akhir - akhir ini. Sekarang Solo terancam kehilangan ruhnya sebagai kota yang menjunjung tinggi adat budaya adi luhung, kota yang ramah dan toleran terhadap siapapun," kata Kusumo kepada hariankota.com.



Dengan aksi damai ini, keberagaman budaya yang disebut sudah ada di Kota Solo  jauh sebelum Indonesia merdeka ditunjukkan melalui elemen - elemen masyarakat yang terlibat aksi. Ada barisan  bendera Merah Putih, barisan seni budaya dengan Reog Ponorogo, wayang orang , pengayuh becak, dan ormas kepemudaan.



" Kirab budaya dalam aksi damai ini untuk  menunjukkan Solo kondusif, Solo aman dengan segala keberagamannya.  Kami tegas menentang gerakan - gerakan yang justru akan menjadikan Solo sebagai kota mencekam. Kami tegas menolak sikap intoleran., sikap mementingkan kelompoknya sendiri. Itu bukan ciri orang Solo," tegasnya.



Kusumo dengan tegas menyatakan tidak akan tinggal diam ketika kedamaian dan kondusifitas serta kerukunan antar warga di Kota Solo terkoyak.  Solo harus menjadi tempat yang ramah dimana warganya saling hidup berdampingan tanpa ada rasa was - was dalam beraktivitas. Masyarakat kecil mendapat tempat dalam mengais rejeki



"Karenanya kami tidak ingin ada gesekan dalam masyarakat Kota Solo. Kami tidak ingin ada gerakan - gerakan mengatasnamakan keadilan namun didalamnya ada muatan kepentinga,  baik pribadi, golongan maupun politik. Itu yang harus dicegah agar   tidak terjadi perpecahan,” tandasnya.



Dalam aksi yang mendapat pengawalan ketat aparat kepolisian dari Polresta Solo, Satpol PP, dan TNI ini, selain diisi orasi perwakilan masing - masing elemen juga diwarnai pertunjukkan Reog, dan tari topeng  buto.



"Kami berharap  warga Solo sepakat bersama-sama menjaga budaya dan kearifan lokal Solo dengan segenap jiwa raga. Kami siap berkorban untuk keutuhan Solo dibawah naungan NKRI yang kami cintai," pungkas Kusumo.



Jurnalis : Sapto Nugroho
Editor : Mahardika

Share this Article :