Rekomendasi

Gandeng Norwegia KKP Garap Potensi Marikultur di Indonesia

Selasa, 29 September 2020 : 20.37
Published by Hariankota
JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) genjot potensi marikultur di Indonesia salah satunya melalui kolaborasi dengan pemerintahan Norwegia melalui proyek Sustainable Marine Aquaculture Development Project in Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa keuntungan geografis dan potensi yang dimiliki oleh Indonesia menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu pondasi ekonomi bangsa.

Slamet menambahkan nilai produk domestik bruto perikanan tahun 2019  mencapai hingga 2 persen dari total PDB nasional. Dan sebagai salah satu produsen akuakultur terbesar di dunia, Indonesia masih memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang, terutama di sektor marikultur.

"Tercatat dari 12,1 juta ha total potensi lahan marikutur, baru 325.825 ha lahan yang termanfaatkan, atau baru sekitar 2,6 persen dari total potensi lahan,” jelas Slamet dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/9/2020).

Pihaknya lanjut Slamet, berupaya menarik investor masuk ke sektor perikanan.  Pemerintah telah melakukan langkah strategis, seperti percepatan penyederhanaan dan sinkronisasi perizinan lintas sektor yang dipantau langsung oleh Presiden.

“Melalui program kerja sama dengan Pemerintah Norwegia diharapkan dapat mengembangkan sektor marikultur di Indonesia dan menarik investor khususnya dari Norwegia untuk dapat bekerja sama mengoptimalkan potensi yang ada,” lanjut Slamet.

Slamet menilai bahwa kerja sama dalam bidang marikultur dengan Norwegia merupakan langkah yang tepat karena telah berpengalaman selama puluhan tahun dan berkembang menjadi salah satu produsen marikultur terbesar di dunia.

“Dalam bidang marikultur, Indonesia telah berhasil mengembangkan dengan baik komoditas seperti rumput laut, kakap putih, dan bawal bintang. Ke depan kita akan terus dorong pengembangan komoditas laut lain yang potensial seperti kerang yang memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi dalam proses budidaya, tidak mengonsumsi pakan buatan serta memiliki kelebihan dapat menjernihkan air laut,” tuturnya.

Sementara itu Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Vegard Kaale dalam sambutannya pada acara Sustainable Aquaculture Webinar menyatakan bahwa pihak Norwegia siap menjadi partner Indonesia dalam mengembangkan industri marikultur tanah air.

“Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi cara kerja kita menjadi lebih efektif, untuk itulah dalam seri webinar kali ini kami mengambil tema pakan dan alternatif pakan dalam akuakultur agar pelaku usaha budidaya mendapatkan gambaran mengenai pemilihan pakan yang tepat agar usahanya dapat berjalan secara efektif dan efisien,” tambah Vegard.

Vegard memaparkan bahwa pada tahun 2050 diprediksi akan ada 9 miliar orang di dunia, sehingga akan dibutuhkan 2 kali lipat produksi pangan dibandingkan pada tahun 2010 untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Potensi sumber pangan yang tinggi berada di laut karena 70 persen bumi tertutup oleh air, namun di sisi lain baru 5 persen sumber pangan saat ini yang berasal dari laut. Oleh karena itu, menumbuhkan sumber pangan di laut menjadi opsi yang sangat prospektif untuk dilakukan.

“Kami senang dapat bekerjasama serta membagi pengetahuan dengan Indonesia mengenai marikultur dan melakukan pembahasan mengenai pengalaman kami dalam membangun industrialisasi akuakultur di Norwegia. Semoga kerja sama yang baik berkesinambungan dengan Indonesia dapat terus dikembangkan untuk kemajuan industri akuakultur Indonesia” pungkas Vegard. 



Jurnalis : Jum
Editor : Mahardika

Share this Article :