Rekomendasi

Ekspor Industri Furnitur Jatim di Masa Pandemi Covid-19 Menggeliat

Kamis, 01 Oktober 2020 : 18.33
Published by Hariankota
SURABAYA  – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Drajat Irawan, mengatakan, industri furnitur merupakan salah satu sektor produk yang mendorong ekspor Jawa Timur dengan ketersediaan bahan baku melimpah baik kayu, bambu, maupun rotan.

Meski dalam kondisi penurunan kinerja perekonomian imbas pandemi Covid-19, ekspor industri furnitur di Jawa Timur mulai menunjukan geliatnya. Industri furnitur merupakan salah satu subsektor yang mendukung Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur.

Dara dari BPS Jatim tahun 2019 jumlah industri pengolahan kayu termasuk di dalamnya industri furnitur sebanyak 10.120 unit, dengan rincian industri kecil sebanyak 9.418 unit, industri menengah sebanyak 27 unit dan sisanya industri besar sebanyak 175 unit.

Bahan baku industri furnitur Jawa Timur berasal dari daerah Banyuwangi, Jember, Blitar, Saradan, Tuban, dan daerah lainnya. Sementara jumlah produksi kayu Jawa Timur untuk pertukangan sebesar 170.443 m3.

Untuk industri pengolahan kayu Jawa Timur berada di Kab. Ngawi, Madiun, Nganjuk, Jombang, Tuban, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang.

Drajat menambahkan, jika beberapa perajin di Jawa Timur memanfaatkan limbah kayu, seperti bonggol atau akar (gembol), dahan dan ranting menjadi kerajinan kayu. Oleh para pengrajin yang ada di Jatim diubah menjadi barang bernilai seni tinggi yang banyak diminati oleh kolektor benda antik, baik dalam maupun luar negeri.

"Dengan pasar adalah kota-kota besar di pulau Jawa diantaranya seperti Surabaya, Solo, Jogjakarta, Semarang, Bandung, Jakarta hingga ke pulau Bali,” ujarnya dalam rilisnya, Selasa (29/9/2020)

Produk furnitur merupakan salah satu prioritas ekspor disamping industri makanan dan minuman serta hasil laut. Sebab kualitas produk furniture Indonesia memiliki kekhasan serta nilai artistik yang tinggi yang tidak dimiliki produk furnitur negara lain.

Seperti mebel dari pohon akar jati, meja tebal dari kayu dan yang lainnya, dan tentu saja produk furnitur telah memenuhi persyaratan Legalitas Kayu (V-Legal) untuk memastikan legalitas sumber kayu yang digunakan sebagai bahan baku,”imbuhnya.

Berdasarkan data Global Trade Atlas (2020), tercatat ekspor furnitur dari Indonesia ke AS periode Januari-Mei 2020 sebesar 582,11 juta dolar AS. Jumlah ini meningkat 51,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 384,82 juta dolar AS dan peningkatan ini terjadi di bulan Mei ketika era new normal mulai berjalan.

Sementara itu, geliat penjualan produk furniture Jawa Timur mulai menunjukan peningkatan permintaan setelah kebijakan lockdown dicabut oleh beberapa negara tujuan ekspor.

Negara tujuan ekspor produk furnitur Jawa Timur mayoritas adalah Amerika Serikat, Jepang, Inggris serta negara-negara di Eropa antara lain Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan Itali.Impor produk furnitur terbanyak berasal dari Cina.

Dirinya menambahkan, jika imbas dari perang dagang Amerika Serikat dan China mendorong sentimen kurang baik terhadap produk asal China termasuk didalamnya produk furnitur. Hal ini menjadi peluang besar bagi produk furnitur Jatim untuk memperluas ekspansi pasar ekspor sehingga turut mendorong pemulihan ekonomi utamanya pada masa pandemi Covid-19.

”Konsumsi dalam negeri mulai meningkat pada masa adaptasi kebiasaan baru. Dikarenakan orang-orang lebih banyak beraktifitas di rumah maka dari itu keinginan untuk mempercantik dan menambah fungsi rumah kian meningkat, hal ini tentunya mendorong peningkatan konsumsi furniture dan memungkinkan desain furnitur yang akan banyak permintaan adalah jenis home office furniture,”lanjunya..

“Dengan adanya perubahan pola perilaku masyarakat sebagai konsumen, industri furnitur Jawa Timur harus mengantisipasi dan dapat segera menyesuaikan agar kinerja industri furnitur akan terus meningkat,” urainya.

Disperindag Propinsi Jatim juga melakukan promosi misi dagang produk furniture secara online dan ofline, peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui bimbingan teknis, pengembangan desain produk furniture yang inovatif dan marketable. Sementara perluasan pasar dengan memanfaatkan pada platform digital melalui e-commerce maupun media online, serta peningkatan kualitas produk melalui standarisasi produk industri, dan pengembangan sentra industri.

“Terkait ekspor, pelaku usaha bisa melakukan pemanfaatan tarif preferensi berdasarkan kerjasama bilateral, regional, maupun multilateral yang telah diikuti oleh Indonesia seperti IA-CEPA dan IK-CEPA,”tambahnya.



Jurnalis : Jum
Editor : Mahardika

Share this Article :