Rekomendasi

Enam Lembaga Penelitian dan Pergurunuan Tinggi Kembangkan Vaksin Merah Putih

Rabu, 21 Oktober 2020 : 16.44
Published by Hariankota


JAKARTA
- Enam lembaga penelitian dan perguruan tinggi  di Indonesia yang melakukan pengembangan vaksin Merah Putih dengan berbagai platform

siap  mempercepat proses pengembangan vaksin.


"Saat ini ada enam lembaga penelitian dan pergurun tinggi  di Indonesia yang melakukan pengembangan vaksin Merah Putih dengan berbagai platform," jelas Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang PS Brodjonegoro.


Keenam Lembaga penelitian tersebut adalah Lembaga Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Gajah Mada (UGM).


Disebutkan Menristek, Eijkman mengembangkan dengan platform protein rekombinan. LIPI juga mengembangkan dengan platform protein rekombinan fusi, UI dengan platform DNA, RNA, dan virus like particles. ITB dengan platform adenorus, UNAIR dengan platform adenorus, dan UGM dengan platform protein rekombinan.


“Tentunya kita berharap, vaksin ini bisa  segera dikembangkan dalam waktu yang relative cepat," paparnya.  


Saat ini, dari 6 lembaga tersebut diperkirakan yang bisa paling cepat,  awal tahun depan sudah bisa diserahkan bibit vaksin ke Biofarma adalah dari Eijkman dan UI, karena  tahapannya sudah mendekati atau sudah masuk ke tahap uji hewan.


Ia menambahkan, kebutuhan vaksin sangat besar, karena  dua pertiga penduduk harus di vaksin, atau sekitar 180 juta orang.


"Kalau satu orang butuh dua kali vaksin  dibutuhkan minimal 360 juta vaksin," inbuhnya.


Kemudian kalau semua orang divaksin, maka 270 dikali dua, alias 540 juta. Jadi harus ada kapasitas antara 360 sampai 540 juta yang barangkali tidak bisa dipenuhi oleh Biofarma sendirian. 


"Karena itu, kita sudah menggandeng dan bernegosiasi dengan perusahaan swasta  yang bersedia infes  untuk pemgembangan vaksin Covid 19 ini,” tambahnya.


Terkait kerjasama dengan pihak luar negeri,  Menteri Bambang menyampaikan, meskipun dapat  beli langsung, beli vaksin dalam keadaan utuh, tetapi lebih mengutamakan kerjasama atau transfer teknologi. 


“Paling tidak untuk memindahakn vaksin  dalam bentuk box yang dikirim dari luar, dipindahkan dalam botol-botol  yang nantinya didistribusikan  untuk keperluan vaksinasi, dan kita sudah membangun kerjasama tidak hanya dengan China,  tapi juga dengan Korea, Turki, dan lain-lain. Intinya kita mendorong kerjasama selama ini, tentunya menguntungkan bagi Indonesia,” tutupnya. 



Jurnalis : wayan
Editor : Mahardika

Share this Article :