Rekomendasi

KKP Bantu Program ICRG Trigger Pemulihan Ekonomi Bali

Sabtu, 31 Oktober 2020 : 22.39
Published by Hariankota

Foto : Kementrian KKP

BADUNG
- Propinsi Bali masuk dalam Program restorasi terumbu karang Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) dan pelestarian ekosistem pesisir dan kawasan wisata sebagai salah satu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). 


Program ini diharapkan menjadi pemicu bagi pemulihan ekonomi masyarakat Bali, yang selama ini sangat bertumpu dalam sektor pariwisata yang belakangan lumpuh akibat pandemi Covid-19. 


“Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi masyarakat Bali," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dalam acara sosialisasi program padat karya ICRG di Pantai Pandawa, Badung, Bali, Jumat (30/10). 


Program ICRG merupakan program padat karya restorasi terumbu karang digelar di lima lokasi perairan di Bali


Diantaranya, Nusa Dua, Serangan, Sanur, Pantai Pandawa dan Buleleng. Kebun terumbu karang ini dibangun melalui anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bersumber dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp 111,2 miliar.


Menteri Edhy menjelaskan, Bali  menyumbangkan devisa yang cukup besar bagi negara melalui pariwisata. Bali menjadi penyokong ekonomi kedua yang membangun Indonesia. 


"Bali adalah corong dunia. Orang di dunia mengenal Indonesia melalui Bali. Ini yang sangat penting. Makanya kita harus mulai dan kita harus geliatkan,” tegasnya.


Edhy berharap, program restorasi terumbu karang ini bermanfaat secara ekonomi untuk masyarakat pesisir melalui program padat karya dan manfaat jangka panjang mendukung sektor kelautan dan perikanan.


“Ini juga bargain kepada dunia bahwa dengan kita membangun koral, kita juga turut membangun iklim sejuk di Indonesia. Karena menanam satu koral sama dengan menanam 20 pohon,” imbuh Edhy. 


Program pembangunan taman bawah laut ini juga diharapkan menjadi trigger pemanfaatan sektor kelautan dan perikanan di Bali, tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata. Sebab, Edhy melihat potensi Bali di sektor kelautan dan perikanan cukup tinggi.


“Satu hal yang Bali miliki tapi daerah lain tidak punyai adalah pasarnya. Seluruh dunia mampir di Bali,” tegasnya. Edhy pun mengajak masyarakat Bali untuk mulai menggarap serius sektor kelautan dan perikanan. Misalnya rumput laut, tambak udang, atau budidaya ikan.


Ia mencontohkan, budidaya rumput laut yang pengelolaannya tidak terlalu rumit. Cukup memberikan bibit, tanpa pupuk, dan bisa dipanen setiap 43 hari. “Satu tahun bisa menghasilkan 10 ton kering minimal. Harga perkilonya bisa Rp12 ribu bahkan sampai Rp26 ribu,” ujarnya.


Atau budidaya udang vaname yang bisa menghasilkan 40 ton dari satu hektare tambak. Edhy mengilustrasikan, seperempatnya saja atau 2.500 meter tambak sudah bisa menghasilkan 10 ton sekali panen. Alhasil, jika dikalikan dengan harga udang minimal Rp60 ribu per kilo, pembudidaya sudah mengantongi untung kotor hingga Rp600 juta.


“Untuk modal, kita punya pinjaman yang bunganya hanya 3 persen, BLU LPMUKP. Kalau habis bisa ambil KUR, kalau bapak ibu sudah jago, bisa ambil komersil,” tutupnya. 



Jurnalis : Made
Editor : Mahardika

Share this Article :