Rekomendasi

Survey KHL 2021, Buruh Sukoharjo Inginkan Kenaikan Upah

Selasa, 20 Oktober 2020 : 18.29
Published by Hariankota

 


SUKOHARJO - Pandemi berkepanjangan telah membuat sektor industri mengalami kesulitan menjalankan aktivitas usahanya, hingga dampaknya banyak buruh harus terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).


Namun begitu, perjuangan untuk mendapatkan upah layak masih terus dilakukan bagi mereka yang saat ini masih bertahan tidak terkena PHK ditengah pandemi Covid-19.


Informasi yang didapat hariankota.com, sebuah survey akan dilakukan oleh serikat pekerja di Sukoharjo untuk menentukan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang akan menjadi acuan untuk menentukan usulan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Tahun 2021.


Meski belum bisa dipastikan kapan pandemi akan berlalu, Serikat Pekerja Republik Indonesia (SPRI) Sukoharjo tetap berharap UMK tahun depan lebih tinggi dibandingkan UMK tahun ini. Saat ini UMK Sukoharjo sebesar Rp 1.938.000.


“Kami akan melakukan survei KHL dulu. Jika survei selesai, akan jadi acuan untuk menentukan usulan nilai UMK tahun 2021 dari serikat pekerja yang tergabung dalam Dewan Pengupahan Kabupaten,” jelas Ketua SPRI Sukoharjo, Sukarno, Selasa (20/10/2020).


Ia menuturkan, dalam survei KHL ada 64 komponen yang dijadikan tolok ukur, seperti komponen harga kebutuhan pokok, tempat tinggal dan komponen lainnya. Lokasi sampel survey akan dilakukan di Pasar Ir Soekarno Sukoharjo Kota dan Pasar Kartasura.


"Survei akan kami lakukan dalam waktu dekat memakai aturan Permenaker Nomor 18 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Permenaker Nomor 21 Tahun 2016 tentang KHL. Kalau aturan lama survei KHL hanya 60 komponen, sedangkan yang baru 64 komponen,” ujarnya.


Adanya tambahan empat komponen baru dalam Permenaker Nomor 18 Tahun 2020 ditegaskan Sukarno akan dimaksimalkan buruh Sukoharjo untuk meminta kenaikan UMK 2021.


"Buruh sudah bulat meminta kenaikan UMK pada tahun depan. Karena situasi sekarang sangat berbeda dibanding tahun sebelumnya. Kami perkirakan penentuan UMK tahun 2021 nanti akan berlangsung alot," paparnya.


Perkiraan alotnya pembahasan dan penentuan UMK 2021 tersebut disebabkan adanya perbedaan pandangan, baik dari buruh, dinas dan pengusaha. Ia meyakini yang bakal jadi biang alotnya penetapan angka UMK karena kondisi sekarang masih pandemi Covid-19.


“Sekarang ini efektif untuk mengajukan usulan tinggal dua bulan berjalan karena sekarang sudah akhir Oktober dan awal Desember biasanya sudah ada putusan UMK,” pungkasnya.




Jurnalis : Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :