Rekomendasi

Tiga Tradisi Khas Buleleng Kini Ditetapkan Menjadi WBTB Nasional

Jumat, 09 Oktober 2020 : 21.09
Published by Hariankota


BULELENG-Tiga tradisi khas yang terdapat di Kabupaten Buleleng,Bali ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan(Kemendikbud).


“Tiga tradisi khas tersebut adalah keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional Lukisan Kaca Desa Nagasepaha,Tradisi dan Ekspresi Lisan Megoak-goakan Desa Panji serta Adat Istiadat Masyarakat Ngusaba Bukakak Desa Giri Emas,”ujar Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara saat ditemui usai sidang pleno penetapan secara virtual,Jumat (9/10/2020) dikutip dari Media Center Kabupaten Buleleng.


Setelah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional,Dinas Kebudayaan akan melakukan seminar atau webinar untuk menyebarluaskan apa hasil penetapan ini. 


"Tujuannya agar masyarakat menjadi tahu dan lebih paham,"imbuhnya.


Nantinya di tahun 2021,akan dilakukan proses perlindungan,pengembangan,dan pemanfaatan dari tiga WBTB nasional ini.Selain tiga ini,sebelumnya ada empat WBTB nasional di Kabupaten Buleleng.


“Jadi ada tujuh WBTB di Kabupaten Buleleng dan kami akan melestarikan WBTB Nasional tersebut melalui berbagai program,”kata Dody.


Sasaran prioritas dari pengembangan dan pelestarian WBTB ini adalah kalangan milenial.Agar remaja-remaja di Kabupaten Buleleng menjadi lebih paham dan tahu akan kebudayaan di Buleleng.


Dengan tujuan supaya ada regenerasi selanjutnya bagi kalangan-kalangan yang bisa melestarikan WBTB-WBTB ini. Hal ini perlu dukungan seluruh pihak.Sebelumnya  ada dua produk kebudayaan yang tidak lolos verifikasi nasional yaitu Gambuh Desa Bungkulan dan Megangsing.


Di kesempatan yang sama Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat menghadiri gelaran lomba metapak barong oleh salah satu Sekaa Truna Truni di Buleleng menambahkanhal-hal yang bersifat pengembangan dan pelestarian kebudayaan serta atraksi itu penting untuk kemajuan daerah.Jangan berpikir setiap gelaran budaya dikatakan festival yang tidak jelas tujuannya.


“Justru dengan gelaran budaya atau festival tersebut ada ruang mereka untuk tampil.Ada ruang untuk berkesenian.Kalau tidak ada ruang,kapan berkembangnya kesenian.Itu sebenarnya maksud dan tujuannya,”tutup Bupati Putu Agus


Reporter: Kadek Sujana
Penulis: Kadek Sujana
Editor: Gunadi








Share this Article :