Rekomendasi

Unjuk Rasa Tolak UU Cipta Kerja Berujung Razia, ISAC Sesalkan Anak Dibawah Umur dan Wanita Ikut Ditangkap

Selasa, 13 Oktober 2020 : 14.04
Published by Hariankota


SOLO -  Penangkapan sejumlah warga yang diduga peserta unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law oleh aparat Polresta Solo disesalkan The Islamic Study and Action Center (ISAC). Dari sekira 147 orang yang diamankan tersebut diantaranya ada anak dibawah umur dan wanita.

"Ada beberapa kejanggalan dalam garukan (razia penangkapan-Red) warga yang berada di sekitar  lokasi unjuk rasa," kata Sekretaris ISAC Endro Sudarsono kepada hariankota.com, Selasa (13/10/2020).

Polresta Solo menurut Endro perlu menjelaskan alasan penangkapan 147 orang termasuk wanita dan anak, yang tidak ada keributan yang menyertai sebelumnya.

"Penanganan anak mestinya didampingi psikolog atau dinas sosial," sebut Endro.

Endro yang datang ke Polresta Solo usai penangkapan, Senin (12/10/2020) malam, ikut mendampingi sejumlah orang yang ditangkap. Ia juga menyayangkan adanya penyitaan hape dengan alasan dititipkan sementara.

" Soal penitipan hape ini, ada pihak yang dirugikan, mengingat hape tersebut ada yang digunakan untuk sekolah online," ujarnya.

Dari kejadian ini ISAC mempertanyakan urgensi dan alasan wajib lapor untuk mereka yang diamankan dari area lokasi unjuk rasa, mengingat tidak ada perbuatan dan keributan sebelumnya

"Untuk itu, kami meminta Komnas HAM dan Komnas Anak turun tangan melakukan investigasi peristiwa razia penangkapan warga di Solo saat unjuk rasa aman dan damai, tanpa disertai keributan sebelumnya itu," tegasnya.

ISAC juga meminta Kapolresta Solo agar memberikan kebebasan kepada peserta aksi damai, tetap memposisikan sebagai pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat, dengan tetap melakukan penegakan hukum secara profesional

Seperti diketahui seratusan warga yang diduga peserta unjuk rasa menolak Omnibus Law di sekitar Balai Kota Solo, Senin sore kemarin diangkut aparat keamanan menggunakan truk dibawa ke Mapolresta Solo.

Setelah dilakukan pemeriksaan, dua orang kedapatan membawa alat pemukul terbuat dari besi. Keduanya pun terancam pasal UU Darurat tentang kepemilikan senjata.

Selanjutnya, ada empat orang yang kena tindak pidana ringan karena ketahuan membawa minuman beralkohol jenis ciu. Sisanya sebagian pelajar SMA, dan ada juga pelajar SMP, pada malam harinya sudah diperbolehkan pulang dengan sanksi wajib lapor.

Sebelum dilepas, Polisi memanggil orang tua dan perwakilan sekolah para pelajar yang tertangkap.

Bersama-sama mereka berkumpul di halaman Mapolresta Solo. Orang tua mereka duduk di kursi kemudian para pelajar itu diminta sungkem kepada orang tua masing-masing.

"Mereka kami beri pembinaan kemudian dijemput orang tua masing-masing. Kami minta sungkeman, merenungkan perbuatannya agar tidak diulangi lagi. Karena itu akan merugikan diri sendiri dan orang tua," jelas Kabag Ops Polresta Solo, Kompol Sukarda, kepada wartawan.

Polisi berdalih, penangkapan di lokasi unjuk rasa di depan Balai Kota Solo, Senin sore, sebagai langkah antisipasi agar peserta unjuk rasa tidak terprovokasi pihak-pihak luar yang hendak menunggangi aksi itu.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi

Share this Article :