Rekomendasi

Pelajaran Sejarah Bakal Dihapus Kemendikbud, Ini Respon Dewan Syariah Kota Surakarta

Minggu, 29 November 2020 : 15.27
Published by Hariankota

Ilustrasi (Foto: Lampung pos)

SOLO - Pro - kontra mengiringi rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghapus mata pelajaran sejarah dari sekolah setingkat SMA/SMK. Dalil penghapusan adalah penyederhanaan dan rasionalisasi kurikulum 2013 yang akan mulai diuji coba pada 2021 di berbagai macam sekolah penggerak.

Prihatin dengan rencana tersebut, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) melalui divisi dakwah menggelar dialog kebangsaan membahas jejak sejarah Islam di Indonesia dan bahaya tidak diwajibkan pelajaran sejarah. Ditegaskan, kemerdekaan Indonesia tidak bisa lepas dari peran tokoh - tokoh Islam melalui BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

"Diantaranya ada Muhammad Hatta, dan Haji Agus Salim. Mereka tercatat dalam sejarah. Sejarah ditulis karena ada kepentingan, ada juga karena politis. Makanya sejarah itu selalu aktual," kata Ustad Tiar Bachtiar yang didaulat menjadi pembicara dialog di Riyadi Palace, Solo, Minggu (29/11/2020). 

Ia mengatakan, harus ada tujuan dalam mengajarkan pelajaran sejarah. Harus dipilih bagian mana dari sejarah tersebut mau diajarkan. Dalam pelajaran sejarah agama Islam, perlu diajarkan supaya anak - anak bangga sebagai orang Islam. Demikian halnya dengan pelajaran sejarah bangsa Indonesia.

Kalau sudah tertanam kebanggaan maka akan mudah untuk diajak berjuang menuju kebaikan. Sejarah itu diajarkan bukan untuk masa lalu, tapi untuk masa kini. Namun sejarah itu diajarkan harus dipilih, mana yang perlu diingat untuk kebaikan, dan mana yang perlu dilupakan.

"Tidak perlu semua diajarkan, terutama yang nggak baik. Biar nanti kalau mereka sudah dewasa akan mengerti sendiri," kata Ustad Tiar.

Sementara, pembicara lain, Ustad Muhammad Isa Anshori lebih menyoroti sejarah munculnya Walisanga di tanah Jawa sebagai figur yang perannya dalam penyebaran agama Islam begitu menonjol.

"Nama Walisanga itu sendiri muncul justru setelah mereka tiada. Sama seperti nama - nama jenderal korban G30S PKI di lubang buaya. Sebelum peristiwa lubang buaya, nama mereka itu biasa saja. Tapi sekarang mereka tercatat sebagai pahlawan," ujarnya.

Sementara, Ustad Abdul Rochim putra Abu Bakar Ba'asyir yang ikut mendukung penyelenggaraan dialog, kepada hariankota.com mengatakan, dialog kebangsaan  sengaja digelar sebagai upaya menyadarkan para pendidik di pesantren, guru -guru, dan da'i agar lebih memiliki perhatian terhadap sejarah.

"Bagaimana agar mereka bisa mengajarkan nilai - nilai yang benar kepada para santri maupun murid - murid di sekolah serta masyarakat. Karena selama ini kami lihat generasi muda sangat kurang sekali mendapat pelajaran sejarah tentang bangsa, sehingga kami khawatir mereka akan kehilangan jati dirinya," tuturnya

Pria yang akrab disapa dengan panggilan Ustad Iim ini mengungkap kekhawatirannya jika pelajaran sejarah dihapus, atau menjadi tidak wajib diajarkan. Akan terjadi perhatian generasi muda terhadap sejarah menjadi berkurang. Bahkan sejarah bisa menjadi pelajaran tidak penting.

"Padahal, (sejarah) itulah jati diri kita. Kalau itu dibiarkan maka generasi muda akan kehilangan jati dirinya, dan bangsa kita kehilangan nilai - nilai yang sebenarnya membanggakan buat kita," pungkasnya.

Reporter: Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi

Share this Article :