Rekomendasi

Usung Jargon STOP,Kasus HIV/AIDS di Buleleng Menurun

Selasa, 01 Desember 2020 : 23.35
Published by Hariankota


BULELENG - Dengan mengusung jargon Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kasus penularan HIV AIDS tahun ini di Kabupaten Buleleng berhasil di tekan. angka penularan HIV/AIDS. 


“Tidak terjadi lonjakan yang serius, kita masih bisa menekan kasusnya. Dalam satu tahun terakhir, hingga Oktober 2020 angka penyebarannya hanya di bawah 200. Itu pun banyak kasus yang tertular di luar wilayah Kabupaten Buleleng. Tapi karena KTP-nya dari Buleleng, kita masukkan di daerah Buleleng,” ujar Wakil Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra, Selasa (1/12/2020) seperti dilansir dari laman resmi Pemkab Buleleng. 


Dia mengatakan bahwa, penyuluhan harus tetap dilakukan, untuk memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa sebenarnya Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) jangan dijauhi. Karena penularannya diketahui dari hubungan seksual yang tidak sehat, melalui cairan dan juga jarum suntik yang dipakai bergantian. Hal tersebut harus tetap disosialisasikan


“Kita harus memberikan pengertian bahwa tidak boleh takut dengan penderitanya. Tetapi takutlah dengan penyakitnya. Karena HIV/AIDS ini dapat dicegah dan dikendalikan salah satunya dengan mengadakan sosialisasi ataupun penyuluhan,” jelas Sutjidra.


Khusus untuk ibu hamil, lanjut wabup, akan dilakukan tindakan awal oleh petugas kesehatan ketika melakukan pemeriksaan kondisi kehamilan. Akan dilakukan konseling dan tes HIV secara sukarela atau Voluntary Counselling and Testing (VCT). Tes tersebut dilakukan untuk mengetahui status HIV. Jika reaktif akan dilakukan perlakuan khusus sebagai langkah lanjutan.


“Misalkan tidak boleh melahirkan normal, tidak boleh menyusui, sehingga tidak terjadi penularan kepada bayinya. Screening dengan tes VCT ini wajib, dan difasilitasi oleh pemerintah. Kami sudah lakukan hal tersebut sejak tiga tahun lalu,” imbuh dia.


Khusus di Buleleng, yang rentan terkena virus ini yakni pada usia produktif. Pada kalangan remaja dan dewasa dengan kisaran umur 20 hingga 45 tahun. Upaya penekanan terus dilakukan sehingga target di bawah dua digit angka dapat tercapai per bulannya. Kebanyakan yang tertular dari wiraswasta.


“Yang menjadi hambatan di sini keterbukaan dari mereka. Banyak yang tidak ingin diekspos, tidak mengaku. Mereka menularkan ke orang lain, itu yang menjadi masalah. Hingga kini relawan-relawan kami tetap mengawasi,” kata Sutjidra.



Reporter: Made Sugandha
Penulis: Made Sugandha
Editor: Gunadi

Share this Article :