Rekomendasi

Harga Kedelai Melejit, Perajin Tempe dan Tahu Menjerit Mogok Produksi

Senin, 04 Januari 2021 : 15.55
Published by Hariankota


SUKOHARJO
- Tempe dan Tahu sudah menjadi makanan pokok bangsa Indonesia. Bahkan beberapa kalangan menilai mengkonsumsi makanan berbahan kedelai itu merupakan bagian dari melestarikan budaya bangsa.


Naiknya harga kedelai sebagai bahan pokok untuk pembuatan Tempe dan Tahu sejak akhir tahun lalu memicu kekhawatiran akan berdampak meruntuhkan sikap nasionalis dan kebanggaan terhadap budaya bangsa.


Saat ini perajin Tempe dan Tahu kelimpungan menghadapi tingginya kenaikan harga kedelai di pasaran. Kenaikannya hampir 150% dan pemerintah dinilai diam saja tidak mengambil tindakan apapun.


Dugaan adanya kartel yang bermain makin menyengat, apalagi kalau melihat Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 24/M-DAG/PER/5/2013 Tentang Ketentuan Impor Kedelai dalam Rangka Stabilitas Harga Kedelai.


Peraturan itu dianggap menghambat tumbuhnya importir - importir baru hingga pada ujungnya importir lama dapat melakukan praktik monopoli dengan semaunya menentukan harga dan melakukan kesepakatan pembagian wilayah pemasaran.


Atas kondisi itu sejumlah perajin Tempe dan Tahu di Sukoharjo tepatnya wilayah Kecamatan Kartasura sepakat mogok produksi sebagai bentuk protes atas melonjaknya harga kedelai. Selain itu mereka juga protes atas kenaikan harga minyak goreng.


“Sesuai kesepakatan, perajin tempe dan tahu di Kartasura memutuskan menghentikan produksi per 4 Januari 2021 ini,” kata Perwakilan Komunitas Tahu Tempe Kartasura, Puryono saat audiensi ke DPRD Sukoharjo, Senin (4/1/2021).


Menurutnya, saat ini harga kedelai melambung tinggi dari harga normal Rp 6.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 9.000 per kg. Begitu juga harga minyak goreng dari harga normal Rp 9.000 per liter menjadi Rp 13.500 per liter.


"Naiknya harga kedelai dan minyak goreng ini telah membuat perajin dan pedagang tempe dan tahu di Kartasura mengalami kesulitan produksi. Produksi turun sangat signifikan sehingga berdampak pada penghasilan," ungkapnya.


Diakui, kekesalan atas tidak adanya solusi dari pemerintah ini semula akan diungkapkan melalui aksi demo di Tugu Kartasura, namun rencana itu dibatalkan dengan pertimbangan situasi pandemi corona masih menjadi ancaman kesehatan.


"Kami membatalkan rencana tersebut dan memilih beraudiensi dengan DPRD,” imbuh Puryono yang datang ke gedung dewan disertai puluhan perajin tempe dan tahu lainnya sambil membentangkan spanduk protes.


Wakil Ketua DPRD Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo saat menemui perwakilan perajin Tempe dan Tahu dari Kartasura mengatakan, perlu dirunut apakah kenaikan harga tersebut merupakan siklus atau memang ada faktor lain yang menyebabkannya.


“Setelah itu dicari solusinya, bentuk campur tangan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perdagangan Koperasi (Disdagkop) dan UKM seperti apa,” ucapnya.


Terpisah, Kepala Disdagkop UKM Sukoharjo, Sutarmo saat di hubungi hariankota.com membenarkan bahwa harga kedelai saat ini mengalami kenaikan.


"Khusus harga kedelai berdasarkan Permendag No.7 Tahun 2020 tentang harga acuan pembelian di tingkat petani dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen," terangnya.


Dalam Permendag ditetapkan, harga acuan pembelian di petani untuk kedelai lokal Rp 8.500/kg sedang harga kedelai di konsumen Rp 9.200/kg. Untuk kedelai impor harga acuan pembelian petani Rp 6.550/kg dan harga acuan penjualan di konsumen Rp 6.800/kg


Menyinggung permasalahan harga minyak, Sutarmo mengaku sudah pernah memfasilitasi perajin Tempe dan Tahu dengan Bulog, namun belum tercapai titik temu.


"Pada waktu itu belum ada kesepakatan, karena perajin mintanya minyak curah sedang Bulog hanya sanggup menyiapkan minyak kemasan. Bulog siap dengan harga Rp 12.350/liter," pungkasnya.



Jurnalis :Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :