Rekomendasi

Hari Pertama PSBB di Sukoharjo, Banyak Warung Makan Enggan Tutup Pukul 19.00 WIB

Selasa, 12 Januari 2021 : 20.49
Published by Hariankota


SUKOHARJO
 – Sejumlah tempat usaha kuliner seperti wedangan/angkringan, warung makan kaki lima ditemukan petugas gabungan penertiban pada hari pertama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)/ Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masih enggan menutup usahanya sesuai ketentuan pukul 19.00 WIB.

Beberapa diantaranya ada warung makan kaki lima dan angkringan di wilayah Dompilan, Sukoharjo Kota yang biasa baru mulai buka pada pukul 17.00 WIB. Selain itu juga ada sejumlah warung makan kaki lima di sekitar bundaran Tugu Patung Soekarno, Tanjung Anom, Grogol.

Atas temuan itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sukoharjo, Heru Indarjo yang juga ikut turun melaksanakan penertiban di wilayah Sukoharjo Kota mengatakan belum akan mengambil tindakan tegas berupa sanksi.

"Untuk hari pertama kemarin belum diterapkan sanksi dari petugas. Saat ditemukan pelanggaran jam operasional, petugas masih memberikan toleransi dengan memberi teguran agar pelaku usaha mematuhi jam operasional,” kata Heru kepada wartawan, Selasa (12/1/2021).

Namun begitu, pada pelaksanaan PPKM di hari kedua, Heru menegaskan jika masih ditemukan pelanggaran, petugas gabungan Satpol PP, Dishub, TNI dan Polri, tidak akan segan-segan memberikan sanksi tegas seperti pemberlakuan denda, dan sanksi lainnya.

Menanggapi pelaksanaan PPKM tersebut, salah satu pengelola warung makan Sate Kambing di Jl Jenderal Sudirman, Sukoharjo Kota bernama Abel, menolak jika diminta tutup pada pukul 19.00 WIB. Hal itu juga ia sampaikan kepada petugas gabungan saat melakukan penertiban di hari pertama PPKM.

Saat ditemui hariankota.com, ia mengatakan, setuju protokol kesehatan harus diterapkan secara ketat melalui pembatasan kegiatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tetapi caranya tidak dengan menutup tempat usaha, khususnya warung makan kaki lima dan angkringan yang mayoritas pelaku usahanya adalah masyarakat kecil.

"Kami minta aturan PSBB di Sukoharjo bisa seperti Kota Solo, dimana walikotanya telah membuat aturan - aturan yang masih sangat memanusiakan manusia," ujarnya.

Mengutip tiga poin perubahan Surat Edaran (SE) Walikota Solo tentang jam operasional warung makan/ cafe/ restaurant/lapak jajanan PKL/ kuliner/wedangan atau angkringan selama PPKM atau PSBB. Ia pun meminta agar Bupati Sukoharjo membuat kebijakan yang sama.

"Yakni, waktu operasional sesuai jam operasional masing - masing tempat usaha, makan ditempat paling banyak 25% dari kapasitas tempat duduk dengan jarak maksimal 1,5 meter, dan layanan pesan antar tetap diijinkan sesuai jam operasional," pintanya.

Abel berharap agar Bupati Sukoharjo memikirkan nasib rakyatnya yang memiliki usaha warung makan seperti wedangan atau angkringan yang biasa mulai beroperasi pada sore hari. Ketika diminta tutup pukul 19.00 WIB, lalu bagaimana nasib keluarga mereka yang menggantungkan hidup dari usaha itu.

"Warung tenda (angkringan-Red) jam 17.00 WIB baru buka, terus jam 19.00 WIB disuruh tutup, lalu keluarganya yang mau menghidupi siapa. Kecuali kalau selama pemberlakuan PPKM ini Pemkab Sukoharjo menjamin kelangsungan hidupnya, termasuk keluarga saya dan keluarga teman -teman yang bekerja di sini, monggo, silahkan ditutup," tandasnya.

Reporter:Sapto Nugroho
Penulis: Sapto Nugroho
Editor: Gunadi

Share this Article :