Rekomendasi

Kedelai Langka dan Mahal Satgas Pangan Polri Cek Tiga Gudang Importir Kedelai

Rabu, 06 Januari 2021 : 17.39
Published by Hariankota


JAKARTA
- Menyusul kelangkaan dan mahalnya kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu, Satgas Pangan Bareskrim Polri telah melakukan pengecekan ke tiga gudang importir kedelai yang berlokasi di Tangerang dan Bekasi.


"Fenomena melonjaknya harga kedelai,  pada hari Selasa 5 Januari Satgas Pangan Polri melakukan pengecekan gudang importir kedelai yang ada di tiga lokasi," papar Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (6/1/2021).


Ketiga gudang tersebut diantaranya, PT. Segitiga Agro Mandiri di Bekasi, PT. FKS Mitra Agro di Pasar Kemis Pasir Jaya Cikupa Tangerang dan PT. Sungai Budi di Batu Ceper, Daan Mogot, Kota Tangerang, Banten.


Hasil pengecekan di tiga gudang tersebut diketahui terjadi kenaikan harga dari negara asalnya yang juga mengalami kenaikan.  Jika harga beli dari negara asal sebelumnya Rp.6.800 menjadi Rp.8.300.


Selain itu sejak pertengahan bulan Oktober-Desember 2020 kapal yang langsung tujuan Indonesia sangat jarang dan harus menggunakan angkutan tujuan Singapore dan sering terjadinya delay dikarenakan menunggu waktu dalam konekting ke Indonesia. 


"Sehingga terjadi keterlambatan antara 2- 3 minggu untuk sampai ke Indonesia," jelasnya.  


Sementara total kebutuhan kacang kedelai secara nasional sebanyak 3.130.495 ton. Jumlah tersebut digunakan untuk pemenuhan industri baik besar, sedang maupun mikro atau kecil sebanyak 3.092.351 ton. 


Untuk konsumsi tahu tempe sebanyak 13.480 ton. Untuk benih sebanyak 9858 ton dan kemungkinan hilang atau tercecer sebanyak 14.806 ton.


Menurut dia, pemenuhan kacang kedelai dari dalam negeri atau lokal sebanyak 296.124 ton tidak dapat mencukupi kebutuhan nasional. Sehingga perlu di dukung pemenuhan melalui impor sebanyak 3.180.916 ton.


"Situasi saat ini diperkirakan stok atau ketersediaan kacang kedelai yang ada sebanyak 411.975 ton. Sedangkan stok yang ada di importir sebanyak 200.000 ton, dan 250.000 ton posisi masih berada di Singapura menunggu keberangkatan," pungkasnya.



Jurnalis : Made
Editor : Mahardika

Share this Article :