Rekomendasi

Imlek 2572/2021, Tokoh Muda Khonghucu : Indonesia Beruntung Pernah Punya Gus Dur

Senin, 08 Februari 2021 : 16.38
Published by Hariankota


 SOLO - Peringati Imlek 2572/2021 ditengah pandemi Covid-19, Ketua Generasi Muda Khonghucu (GEMAKU) Indonesia, Js Kristan menyampaikan, rakyat Indonesia beruntung pernah punya Abdurahman Wachid atau Gus Dur yang dapat membalikan keadaan diskriminasi dan rasisme Pemerintahan Orde Baru.


Mendeskripsikan fenomena “culture shock” gegar budaya yang dialami masyarakat Tionghoa Indonesia dalam konteks memaknai fenomena Imlek di Indonesia ketika jaman Orde Baru, ia mengutip kalimat artis ternama Hollywood, Morgan Freeman, the definition of stupid is knowing the truth, seeing the truth bit still believing the lies.


"Pemerintahan Soeharto di masa Orde Baru telah menyisakan pengalaman diskriminatif bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Tahun 2000 sejarah berubah dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Presiden Indonesia ke-4 yang dapat membalikkan keadaan diskriminasi dan rasisme pemerintah Orde Baru," kata Kristan dalam rilisnya kepada hariankota.com, Senin (8/2/2021).


Menurutnya, dalam konteks Indonesia ketika Orde Baru berkuasa Imlek mengalami apa yang disebut di buang, ditolak, diabaikan dan bahkan dianggap berbahaya sehingga semua orang Tionghoa non Khonghucu pada saat itu, sebagian besar walau tidak semua, berbondong-bondong menjauhi bahkan menolak Imlek," sebutnya.


"Menuduh Imlek bukan hari raya agama dan sebagainya, yang intinya ingin mengeliminasi keberadaan Imlek di bumi Indonesia pada saat itu," tuturnya.


Disebutkan, sejarah mencatat hanya umat Khonghucu-lah yang tetap konsisten memperjuangkan dan merayakan Imlek ditengah intimidasi rezim Orde Baru yang diskriminatif. Umat Khonghucu dengan keyakinannya yang kuat tetap melakukan ritual dan persembahyangan Imlek di kelenteng-kelenteng yang ada di Indonesia.


"Religiusitas Imlek yang telah dilakukan selama berabad-abad sebelum masehi justru begitu absurd ketika tahun Imlek ditulis dengan hitungan tahun kalendar Gregorian, tentunya kekeliruan ini sangat tidak masuk akal. Dalam sejarahnya Imlek di Indonesia dilestarikan oleh teman-teman Tionghoa di mana mereka pada tahun 1900 telah membentuk sebuah organisasi Tionghoa yang bernama Tiong Hoa Hwee Koan," paparnya.


Organisasi ini memiliki visi dan misi mengembangkan ajaran Khonghucu. Identitas Imlek bagi Tiong Hoa Hwee Koan, ialah berdasarkan sumber-sumber teologis ajaran Khonghucu dimana tahun Imlek dihitung dari tahun lahirnya Confucius (Kongzi/Khong Hu Cu).


"Hal tersebut juga dapat dibuktikan dengan literatur sejarah yang masih utuh dapat kita baca, ketika pada sekitar tahun 1900an tersebut penanggalan Imlek di Indonesia merujuk pada tahun lahir Confucius, yaitu yang hari ini jatuh ke yang 2572, di mana angka tersebut diambil dari angka tahun kelahiram Confucius 551 SM + 2021=2572," sambungnya.


Jadi penanggalan tersebut bukanlah hal yang tanpa dasar, karena sebagian orang masih menganggap penanggalan tersebut hanyalah sesuatu hal yang dipaksakan pasca Orde Baru dan sejak hak-hak penganut Agama Khonghucu dipulihkan kembali pasca tahun 2000an.


Hal ini juga memang berdasarkan apa yang disarankan oleh kaum reformis di Tiongkok saat akhir-akhir selesainya dinasty Qing, dimana tokoh reformasi yang bernama Kang You Wei juga merumuskan hal yang sama ketika mencoba menstandarisasi tahun Imlek di Tiongkok berdasarkan tradisi yang panjang sejak jaman dinasti Han.


"Artinya jika bagi pemeluknya hal itu merupakan keyakinan agama maka ia secara ontologis memenuhi syarat-syarat keagamaannya," tegasnya.


Imlek 2572 Kongzi Li adalah Imlek Indonesia, ia adalah Imlek Nusantara yang religius yang terjiwai oleh semangat keIndonesiaan masyarakat Khonghucu Indonesia, bukan semangat negara lainnya. Sehingga Imlek sama sekali bukan Tahun Baru China karena Imlek di Indonesia ialah Imlek yang dijiwai, disirami, disemai oleh semangat cinta tanah air keteladanan khas Indonesia yang dijaga secara konsisten dari generasi ke generasi masyarakat Khonghucu Indonesia.


"Demikian juga halnya Khonghucu Indonesia ialah Khonghucu Nusantara yang menjunjung tinggi prinsip ajaran Confucius dimana kita lahir dan tinggal disitulah kita wajib mengabdi. Karena kita Tionghoa Indonesia," imbuhnya.


Dengan kondisi saat ini yang masih dilanda wabah corona, Kristan berharap semoga semangat Imlek kali ini, semua dapat memperbaharui diri dan selalu menjaga diri agar menjadi lebih baik menjadi resolusi Tahun Baru yang lebih mendewasakan dalam menyikapi segala tantangan ke depan.


"Gong He Xin Xi, Wan Shi Ru Yi, Selamat Tahun Baru Imlek 2572, Kongzi Li, Happy Anno Confuciani 2572," pungkas Kristan.



Jurnalis : Sapto
Editor : Mahardika

Share this Article :